Selasa, 15 November 2016

ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR

| | 0 komentar

BAB I
PENDAHULUAN
A.    DASAR PEMIKIRAN
1.      Latar Belakang Pedagogis
       Fungsi dan peran seperti ini sering menempatkan dosen pada otoritas yang berlebihan, seperti sebagai sumber informasi tunggal dan sebagai sentral aktivitas pembelajaran, sehingga mahasiswa mirip sebagai objek pasif, ibarat bejana kosong yang harus diisi sejumlah informasi. “Dominasi” dosen dalam interaksi belajar mengajar di dalam kelas seperti itu dapat menimbulkan apatisme dan sikap pasif mahasiswa karena kreativitasnya terhambat. Akhirnya, hak tersebut berdampak mengurangi kualitas hasil belajar.
2.       Dasar Yuridis
        Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 40 ayat 1 butir e dikemukakan bahwa : “Pendidik dan tenaga kependidikan berhak memperoleh kesempatan menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas pendidikan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas”. Pasal ini memberi peluang kepada dosen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui dukungan sarana prasarana, dan fasilitas yang memadai. Pasal ini dipertegas oleh kewajiban pendidik dan tenaga kependidikan yang tertuang dalam pasal 40 ayat 2 butir a yang menyataakan bahwa pendidik berkewajiban : “Menciptakan suasana yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis”. Dengan demikian, interaksi belajar yang monolog dan komunikasi satu arah tidak lagi merupakan model pembelajaran yang tunggal sebab banyak kritik terhadap pendekataan pembelajaran semacam ini karena sifatnya yang indoktrinatif  dapat menghalangi aktivitas dan kreativitas mahasiswa untuk menjadikannya sebagai pribadi yang pasif.

B.      VISI, MISI, TUJUAN, DAN BAHAN ISBD
      Visi ISBD adalah sebagai beikut : “Mahasiswa selaku individu dan makhluk sosial yang beradab memiliki landasan pengetahuan, wawasan, serta keyakinan untuk bersikap kritis, peka dan arif dalam menghadapi persoalan soal dan budaya yang berkembang di masyarakat”.

      Sementara itu,  misi ISBD adalah sebagai berikut :
1.      Memberikan pengetahuan dan wawasan tentang keragaman, kesetaraan, dan martabat manusia sebagai individu dan makhluk sosial dalam kehidupan masyarakat.
2.      Memberikan dasar-dasar nilai estetika,etika, moral, hukum, dan budaya sebagai landasan untuk menghormati dan menghargai antara sesama manusia sehingga akan terwujud masyarakat yang tertib, teratur, dan sejahtera.
3.      Memberikan dasar-dasar untuk memahami masalah sosial dan budaya serta mampu bersikap kritis, analitis, dan responsif untuk memecahkan masalah tersebut secara arif di masyarakat.
             Berdasarkan visi dan misi ISBD, maka tujuan ISBD dikembangkan sebagai berikut :
1.      Mengembangkan kesadaran mahasiswa untuk menguasai pengetahuan tentang keragaman dan kesetaraan manusia sebagai individu dan makhluk sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
2.      Menumbuhkan sikap kritis, peka, dan arif pada mahasiswa dalam memahami dan memecahkan masalah sosial-budaya dengan landasan nilai estetika, etika, moral, dan hukum dalam kehidupan bermasyarakat.
3.      Memberikan landasan pengetahuan dan wawasan yang luas serta keyakinan kepada mahasiswa sebagai bekal hidup bermasyarakat, selaku individu dan makhluk sosial yang beradab dalam mempraktikan pengetahuan akademis dan keahliannya.
ISBD dimaksudkan mempelajari bahan-bahan yang sifatnya tabu, tertutup (closed areas) atau controversial issues yang timbul dalam bidang ekonomi, politik, sejarah, hukum, moral, dan lain-lain.

C.     PENTINGNYA PENDEKATAN INTERDISLINER DALAM ISBD
      Pentingnya pendekatan interdispliner ini diharapkan agar mahasiswa dapat melihat masalah sosial dan budaya secara lebih luas dan komperehensif, sehingga mereka di kemudian hari dapat berperan serta memecahkan masalah-masalah sosial.
Penggunaan pendekatan multidisiplin dalam proses pembelajaran ISBD bisa menggunakan pendekatan struktural, yaitu beberapa disiplin ilmu sosial atau disiplin ilmu budaya digunakan sebagai alat untuk mengkaji masalah. Selanjutnya dapat juga menggunakan pendekatan fungsional, yaitu pembelajaran yang bertitik tolak dari masalah yang terdapat dalam masyarakat atau lingkungan mahasiswa atau masalah sosial-budaya dimana mahasiswa terlibat  secara langsung .
       Bisa juga digunakan pendekatan interfield, yaitu bertitik tolak dari ruang lingkup yang luas, misalnya saja masalah humanitis dengan tema reformasi, pembangunan, pemilu, demokrasi, multikurtural,dan lain-lain yang di kaji dari beberapa bidang ilmu yang cukup luas seperti Bahasa, IPA, Pendidikan, Agama, Teknologi, dan sebagainya.

D.    BEBERAPA ALTERNATIF MODEL PEMBELAJARAN ISBD
      Bila pendekatan multidisiplin atau interdisipliner digunakan dalam ISBD, maka metode ceramah tidak bisa lagi mendominasi aktivitas perkuliahan. Ceramah, tanya jawab, dan diskusi tentu saja masih dipandang penting terutama untuk memberikan penjelasan dasar-dasar ilmiah serta materi esensial yang menjadi basic concept masalah yang akan dibahas, akan tetapi model pembelajaran problem solving, inquiry, klasifikasi nilai, science technology and society, social action model,serta portofolio based learning sangat diperlukan untuk mengembangkan empat pilar pendidikan yang dikemukakan UNESCO.
        Beberapa model pembelajaran yang disebutkan terakhir , sangat membutuhkan keterampilan mahasiswa untuk menguasai teknik pemecahan masalah. John Dowey dalam bukunya How We Think (1910) mengemukakan langkah pemecahan masalah sebagai berikut: (a) merasakan adanya masalah; (b) merumuskan masalah; (c) menetapkan hipotesis atau membuat pertanyaan-pertanyaan penelitian untuk memecahkan masalah; (d) menetapkan sumber data yang akan dijadikan objek penelitian; (e) membuat instrumen untuk melakukan penelitian; (f) melakukan pengumpulan data; (g) melakukan klasifikasi dan analisis data; (h) menguji hipotesis atau pembahasan hasil penelitan; dan (i) rekomendasi.

E.     PROSES PEMBELAJARAN BERBASIS PORTOFOLIO
1.      Pengertian
     Istilah portofolio yang paling sering dikenal terdapat di lapangan pemerintahan, terutama ketika menunjuk pada menteri yang tidak membawahi suatu departemen, biasanya menteri seperti itu disebut menteri negara atau minister without portofolio,akan tetapi didunia pendidikan istilah itu sangat berbeda dan masih relatif baru.
2.      Langkah-Langkah Pembelajaran
a)      Mengidentifikasi masalah
b)      Memilih masalah untuk kajian kelas
c)      Mengumpulkan informasi tentang masalah yang akan dikaji oleh kelas
d)     Mengembangkan portofolio kelas
e)      Penyajian portofolio
f)       Kriteria penilaian portofolio

F.      CATATAN
      Untuk  menilai mahasiswa, sebaiknya selain kriteria diatas, juga harus diperhatikan keterlibatan dan aktivitas mahasiswa dalam melaksanakan tugas tersebut sejak awal sampai akhir portofolio. Disamping itu, model pembelajaran portofolio ini bukan dilaksanakan dalam satu kegiatan tatap muka, melainkan merupakan proyek mahasiswa dalam satu semester, yang penampilannya dilakukan menjelang akhir semester, kalau bisa ada kompetisi antarkelas yang dilaksanakan bersamaan dengan pekan seni dan kegiatan mahasiswa lainnya dengan melibatkan civitas academica dan masyarakat yang relatif luas.



 BAB II
MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
A.    PENGERTIAN BUDAYA
      Budaya adalah bentuk jamak dari kata “budi” dan “daya” yang berarti cinta, karsa dan rasa. Kata “budaya” sebenarnya berasal dari bahasa sansekerta, budhayah, yaitu bentuk jamak kata buddhi yang berarti budi atau akal. Dalam bahasa Inggris, kata “budaya”  berasal dari kata culture. Dalam bahasa Latin berasal dari kata colera. Colera berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan tanah (bertani).
      Dengan demikian, kebudayaan atau budaya menyangkut keseluruhan aspek kehidupan manusia baik materiel maupun nonmateriel. Sebagian besar ahli yang mengatakan atau mengartikan kebudayaan seperti ini kemungkinan besar sangat dipengaruhi oleh pandangan evolusionisme, yaitu suatu teori yang mengatakan bahwa kebudayaan itu akan berkembang dari tahapan yang sederhana menuju tahapan yang lebih kompleks.

B.     PERWUJUDAN KEBUDAYAAN
      Beberapa ilmuwan seperti Tallcott Parson (sosiolog) dan Al Kroeber (Antropolog) menganjurkan untuk membedakan wujud kebudayaan secara tajam sebagai suatu sistem. Dimana wujud kebudayaan itu adalah sebagai suatu rangkaian dan tindakan aktivitas manusia yang berpola. Demikian pula J.J . Honingmann dalam bukunya The world of Man (1959) membagi budaya dalam tiga wujud, yaitu : (1) ideals, (2) activities, and (3) artifact. Sejalan dengan pikiran para ahli tersebut,  Koentjaraningrat mengemukakan bahwa kebudayaan itu dibagi atau digolongkan dalam tiga wujud, yaitu :
1)      Wujud sebagai suatu kompeks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan peraturan.
2)      Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam bermasyarakat.
3)      Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasilkarya manusia.

C.     SUBSTANSI (ISI) UTAMA BUDAYA
      Substansi (isi) utama kebudayaan merupakan wujud abstrak dari segala macam ide dan gagasan manusia yang bermunculan didalam masyarakat yang memberi jiwa kepada masyarakat itu sendiri, baik dalam bentuk maupun berupa sistem pengetahuan, nilai, pandangan hidup, kepercayaan, persepsi, dan etos kebudayaan.
1.      Sistem Pengetahuan
     Sistem pengetahuan yang dimiliki manusia sebagai makhluk sosial merupakan suatu akumulasi dari perjalanan hidupnya dalam hal berusaha memahami alam sekitar. Untuk memperoleh pengetahuan tersebut, ada tiga cara yang diperlukan, yaitu: melalui pengalaman dalam kehidupan sosial; melaui pengalaman yang diperoleh baik di pendidikan formal maupun nonformal; melalui petunjuk-petunjuk yang bersifat simbolis yang sering disebut sebagai komunikasi simbolis.
2.      Nilai
      Nilai adalah sesuatu yang baik yang selalu diinginkan, dicita-citakan dan dianggap penting oleh seluruh manusia sebagai anggota masyarakat. Menurut C. Kluchohn (1905-1960) ada 5 dasar yang bersifat universal yang menentukan orientasi nilai budaya manusia di dunia yaitu:
a)      Hakikat Hidup Manusia (MH)
b)      Hakikat Karya Manusia (MK)
c)      Hakikat Waktu Manusia (MW)
d)      Hakikat Alam Manusia (MA)
e)      Hakikat Hubungan Antar Manusia (MM)
3.      Pandangan Hidup
      Pandangan hidup merupakan pedoman bagi suatu bangsa atau masyarakat dalam menjawab atau mengatasi berbagai masalah yang dihadapinya.
4.      Kepercayaan
    Kepercayaan mengandung arti yang lebih luas daripada agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
5.      Persepsi
    Persepsi atau sudut pandang ialah suatu titik tolak pemikiran yang tersusun dari seperangkat kata-kata yang digunakan untuk memahami kejadian atau gejala dalam kehidupan.
6.      Etos Kebudayaan
    Etos atau jiwa kebudayaan (dalam antropolog) berasal dari bahasa Inggris berarti watak khas. Etos sering tampak pada gaya perilaku misalnya, kegemaran-kegemaran warga masyarakatnya serta berbagai benda budaya hasil karya mereka, dilihat dari luar oleh orang asing.

D.    SIFAT-SIFAT BUDAYA
Sifat-sifat hakiki dari kebudayaan adalah sebagai berikut:
1)      Budaya terwujud dan tersalurkan dari pelaku manusia
2)      Budaya telah ada terlebih dahulu daripada lahirnya suatu generasi tertentu dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan.
3)      Budaya diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah lakunya.
4)      Budaya mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang, dan tindakan-tindakan yang diizinkan.

E.     SISTEM BUDAYA
     Sistem budaya merupakan komponen dari kebudayaan yang bersifat abstrak dan terdiri atas pikiran-pikiran, gagasan, konsep, serta keyakinan dengan demikian sistem kebudayaan merupakan bagian dari kebudayaan yang dalam bahasa Indonesia lebih lazim disebut sebagai istiadat. Sistem kebudayaan suatu daerah akan menghasilkan jenis-jenis kebudayaan yang berbeda. Jenis kebudayaan tersebut dikelompokkan menjadi dua yaitu kebudayaan materiel dan kebudayaan nonmateriel. Selain itu, kebudayaan juga dapat dilihat dari dimensi wujudnya, yakni: sistem budaya; sistem sosial; dan sistem kebendaan.

F.      MANUSIA SEBAGAI PENCIPTA DAN PENGGUNA KEBUDAYAAN
     Tercipta atau terwujudnya suatu kebudayaan adalah sebagai hasil interaksi antara manusia dengan segala isi alam raya ini. Dengan sumber-sumber kemampuan manusia seperti akal, inteligensi, dan intuisi; perasaan dan emosi; kemauan; fantasi; dan perilaku, maka nyatalah bahwa manusia menciptakan kebudayaan. Manusia merupakan makhluk yang berbudaya, melalui akalnya manusia dapat mengembangkan kebudayaan.

G.    PENGARUH BUDAYA TERHADAP LINGKUNGAN
    Suatu kebudayaan memancarkan suatu ciri khas dari masyarakat dapat disimpulkan bahwa kebudayaan yang berlaku dan dikembangkan dalam lingkungan tertentu berimplikasi terhadap pola tata laku, norma, nilai, dan aspek kehidupan lainnya yang akan menjadi ciri khas suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya.

H.    PROSES DAN PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN
      Perkembangan kebudayaan terhadap dinamika kehidupan seseorang bersifat kompleks dan memiliki eksistensi dan berkesinambungan dan juga menjadi warisan sosial. Seseorang mampu memengaruhi kebudayaan dan memberikan peluang untuk terjadinya perubahan kebudayaan.
Hal yang terpenting dalam proses pengembangan kebudayaan adalah dengan adanya kontrol atau kendali terhadap perilaku reguler (yang tampak) yang ditampilkan oleh para penganut kebudayaan.

I.       PROBLEMATIKA KEBUDAYAAN
Problematika kebudayaan antara lain :
1)      Hambatan budaya yang berkaitan dengan pandangan hidup dan sistem kepercayaan
2)      Hambatan budaya yang berkaitan dengan perbedaan persepsi
3)      Hambatan budaya yang berkaitan dengan faktor psikologi
4)      Masyarakat yang terasing dan kurang komunikasi dengan masyarakat luar
5)      Sikap tradisionalisme yang berprasangka buruk terhadap hal-hal baru
6)      Sikap etnosentrisme
7)      Perkembangan IPTEK

J.       PERUBAHAN KEBUDAYAAN
Ada lima faktor yang menjadi penyebab perubahan kebudayaan, yaitu:
1)      Perubahan lingkungan alam
2)      Perubahan yang disebabkan adanya kontak dengan suatu kelompok lain
3)      Perubahan karena adanya penemuan
4)      Perubahan yang terjadi karena suatu masyarakat mengadopsi beberapa elemen kebudayaan materiel yang telah dikembangkan oleh bangsa lain di tempat lain
5)      Perubahan yang terjadi karena suatu bangsa memodifikasi cara hidupnya dengan mengadopsi suatu pengetahuan atau kepercayaan baru, atau karena perubahan dalam pandangan hidup dan konsepsinya tentang realitas.


BAB III
MANUSIA DAN PERADABAN
A.    PENGERTIAN PERADABAN
    Peradaban merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menyebutkan bagian-bagian atau unsur kebudayaan yang dianggap halus, indah dan maju. Berdasarkan pendapat para ahli yang berbeda satu dengan yang lainnya, maka dapat disimpulkan bahwa peradaban adalah perkembangan kebudayaan yang telah mencapai tingkat tertentu yang dicirikan oleh taraf inteleketual, keindahan, teknologi dan spritual tertentu yang diperoleh manusia pendukungnya. Dengan demikian, masyarakat tersebut dapat dikatakan telah mengalami proses perubahan sosial yang berarti, sehingga taraf kehidupannya makin kompleks. Dengan kata lain, telah memasuki tahapan atau tingkatan peradaban tertentu.

B.     HAKIKAT HIDUP MANUSIA
       Manusia dalam kehidupannya memiliki tiga fungsi sebagai makhluk Tuhan, makhluk individu dan makhluk sosial-budaya. Karena tiap kebudayaan berbeda namun pada dasarnya memiliki hakikat yang sama, yaitu:
1)      Terwujud dan tersalurkan lewat perilaku manusia
2)      Sudah ada sejak lahirnya generasi dan tetap ada setelah pengganti mati
3)      Diperlukan manusia yang diwujudkan lewat tingkah laku
4)      Berisi aturan yang berisi kewajiban, tindakan yang diterima atau tidak, larangan dan pantangan.

C.     PERADABAN DAN PERUBAHAN SOSIAL
1.      Pengertian Dan Cakupan Perubahan Sosial
      Perubahan sosial merupakan gejala yang melekat disetiap masyarakat. Perubahan-perubahan yang terjadi didalam masyarakat akan menimbulkan ketidaksesuain antara unsur-unsur sosial yang ada didalam masyarakat, sehingga menghasilkan suatu pola kehidupan yang tidak sesuai fungsinya bagi masyarakat yang bersangkutan. Perubahan sosial yaitu perubahan yang terjadi dalam masyarakat atau dalam hubungan interaksi, yang meliputi berbagai aspek kehidupan.
2.      Teori Dan Bentuk
a.       Teori Sebab-Akibat
1)      Analisis Dialektis
Analisis dialektis ialah analisis perubahan sosial yang menelaah syarat-syarat dan keadaan yang mengakibatkan terjadinya perubahan dalam suatu sistem masyarakat.
2)      Teori Tunggal Mengenai Perubahan Sosial
Teori tunggal menerangkan sebab-sebab perubahan sosial, atau pola kebudayaan dengan menunjukkan kepada satu faktor penyebab.
b.      Teori Proses Satu Arah atau Perubahan Sosial
1)      Teori Evolusi Unilinear (Garis Lurus Tunggal)
Teori ini berpendapat bahwa manusia dan masyarakat mengalami perkembangan sesuai dengan tahapan tertentu, semula dari bentuk sederhana kemudian yang kompleks sampai pada tahap yang sempurna.
2)      Teori Multilinear
Teori ini menggambarkan suatu metodologi didasarkan pada suatu asumsi yang menyatakan bahwa perubahan sosial atau kebudayaan didapatkan gejala keteraturan yang nyata dan signifikan.

D.    TEORI-TEORI MENGENAI PEMBANGUNAN, KETERBELAKANGAN, DAN KETERGANTUNGAN
1.      Teori Depedensi (Ketergantungan)
      Pada umumnya memberikan gambaran melalui analisis dialektis, yaitu suatu analisis yang menganggap bahwa gejala-gejala sosial yang dapat diamati sehari-hari pasti mempunyai penyebab tertentu.

      Teori perubahan menurut Moore (1974) sebagai berikut:
a.       Evolusi rektilinier yang sangat sederhana
b.      Evolusi melalui tahap-tahap
c.       Evolusi yang terjadi dengan tahap kelajuan yang tidak serasi
d.      Evolusi bercabang yang mewujudkan perubahan
e.       Evolusi menurut siklus-siklus tertentu dengan kemunduran jangka pendek
f.       Siklus-siklus yang tidak mempunyai kecendrungan
g.      Pertemuan logistis yang digambarkan oleh populasi
h.      Pertumbuhan logistis terbalik yang tergambar dan angka motivasi
i.        Pertumbuhan eksponarisial yang tergambar memulai tanda-tanda
j.        Primitivisme

Adapun bentuk-bentuk perubahan sosial menurut Soejono Soekamto (1986), sebagai berikut :
a.       Perubahan yang terjadi secara lambat dan secara cepat
b.      Perubahan yang pengaruhnya kecil dan pengaruhnya besar
c.       Perubahan yang dikehendaki dan perubahan yang tak dikehendaki

2.      Teori Perubahan
      Interkorelasi dan interaksi sosial masyarakat mendorong perkembangan berpikir dan reaksi emosional para anggotanya. Hal ini mendorong masyarakat untuk mengadakan berbagai perubahan. Ada dua faktor yang menyebabkan perubahan sosial dalam masyarakat yaitu faktor intern dan faktor ekstern.
a.       Faktor Intern
Faktor intern meliputi: bertambahnya dan berkurangnya penduduk; adanya penemuan-penemuanbaru yang meliputi discovery, invention, innovation; konflik dalam masyarakat; dan pemberontakan dalam tubuh masyarakat.
b.      Faktor Ekstern
Faktor ekstern meliputi faktor alam yang ada disekitar masyarakat yang berubah dan pengaruh kebudayaan lain dengan melalui adanya kontak kebudayaan antara dua masyarakat atau lebih yang memiliki kebudayaan yang berbeda.
3.      Keseimbangan
       Keseimbangan sosial adalah syarat yang harus dipenuhi agar masyarakat berfungsi sebagaimana mestinya. Keseimbangan sosial merupakan situasi dimana segenap lembaga sosial berfungsi dan saling menunjang.
Keseimbangan dalam masyarakat merupakan keadaan yang diidam-idamkan oleh setiap masyarakat. Setiap kali terjadi gangguan terhadap keseimbangan tersebut, maka masyarakat akan menolaknya atau mengubah semua sistem.

E.     MODERNISASI DIINDONESIA
1.      Konsep Modernisasi
Modernisasi masyarakat adalah suatu proses transformasi yang mengubah:
a.       Dibidang ekonomi, modernisasi berarti tumbuhnya kompleks industri yang besar, dimana produksi barang konsumsi dan sarana dibuat secara masal.
b.      Dibidang politik, dikatakan bahwa ekonomi yang modern memerlukan ada masyarakat rasional dengan integrasi yang baik.
2.      Syarat-Syarat Modernisasi
a.       Cara berpikir ilmiah yang institutionalized dalam kelas penguasa maupun masyarakat
b.      Sistem administrasi negara yang baik yang benar-benar mewujudkan birokrasi
c.       Adanya sistem pengumpulan data yang baik dan teratur
d.      Penciptaan iklim yang baik dan teratur
e.       Tingkat organisasi yang tinggi
f.       Sentralisasi wewenang dalam pelaksanaannya
3.      Ciri-Ciri Modernisasi
Modernisasi merupakan salah satu modal kehidupan yang ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Kebutuhan materi dan ajang persaingan kebutuhan manusia
b.      Kemajuan teknologi dan industrialisasi, individualisasi, sekularisasi, diferensiasi, dan akultrasi
c.       Modernisasi banyak memberikan kemudahan bagi manusia
d.      Berkat jasanya, hampir semua keinginan manusia terpenuhi
e.       Modernisasi juga memberikan atau melahirkan teori baru
f.       Mekanisme masyarakat berubah menuju prinsip dan logika ekonomi serta orientasi keadaan yang berlebihan
g.      Kehidupan seseorang perhatian religius dicurahkan untuk bekerja dan menumpuk kekayaan

F.      PERADABAN INDONESIA DI TENGAH MODERNISASI DAN GLOBALISASI
      Dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, maka dunia menjadi sempit, ruang dan waktu menjadi relatif, dan dalam banyak hal batas-batas negara sering menjadi kabur bahkan mulai tidak relevan. Dinding pembatas antarbangsa menjadi semakin terbuka bahkan mulai hanyut oleh arus perubahan. Oleh karena itu, Indonesia menghadapi kewajiban ganda, disatu pihak melestarikan warisan budaya bangsa dan di pihak lain membangun kebudayaan nasional yang modern.
       Tujuan akhir dari kedua usaha atau kewajiban ini adalah masyarakat modern yang tipikal Indonesia, masyarakat yang tidak hanya mampu membangun dirinya sederajat dengan bangsa lain, tetapi juga tangguh menghadapi tantangan kemerosotan mutu lingkungan hidup akibat arus ilmu dan teknologi modern maupun menghadapi tren global yang membawa daya tarik kuat kearah pola hidupyang bertentangan dengan nilai-nilai luhur  bangsa.



 BAB IV
MANUSIA SEBAGAI INDIVIDU DAN MAKHLUK SOSIAL

A.    INDIVIDU DAN MASYARAKAT
1.      Manusia Sebagai Makhluk Individu
      Dalam bahasa Latin individu berasal dari kata Individium,artinya yang terbagi. Dalam bahasa Inggris individu berasal dari kata In dan divided. Kata In salah satunya mengandung pengertian tidak, sedangkan divided artinya terbagi. Jadi, individu artinya tidak terbagi atau satu kesatuan.
Manusia sebagai makhuk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa. Seseorang dikatakan sebagai manusia individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Jika unsur tersebut sudah tidak lagi menyatu, maka sesorang tidak lagi disebut sebagai individu.
2.      Manusia Sebagai Makhluk Sosial
     Dalam konteks sosial yang disebut masyarakat, setiap orang akan mengenal orang lain melalui perilaku manusia tersebut selalu terkait dengan orang lain. Perilaku manusia dipengaruhi orang lain, seperti tunduk pada aturan, tunduk pada norma masyarakat, dan keinginan mendapat respons positif dari orang lain. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga dikarenakan pada diri manusia ada dorongan untuk berinteraksi dengan orang lain, ada kebutuhan sosial untuk hidup berkelompok dengan orang lain.
3.      Manusia Sebagai Makhluk Yang Berhubungan Dengan Lingkungan Hidup
      Berkenaan hubungan antara manusia dengan alam, maka paling tidak ada tiga paham yaitu, paham determinisme, paham posibilisme, dan paham optimisme teknologi.
Alam lingkungan sebagai faktor yang berpengaruh terhadap kehidupan manusia, tidak lagi dipandang sebagai faktor yang menentukan. Manusia dengan kemampuan budayanya dapat memilih kegiatan yang cocok sesuai dengan kemungkinan dan peluang yang diberikan oleh alam lingkungannya, telah dipandang aktif sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

B.     PENGERTIAN MASYARAKAT DAN CIRI-CIRINYA
      Masyarakat adalah kumpulan orang yang didalamnya hidup bersama dalam waktu yang cukup lama. Jadi bukan hanya kumpulan atau  kerumunan orang dalam waktu sesaat, seperti kerumunan orang di stasiun, pasar, dan lapangan sepak bola. Dalam kebersamaan yang lama terjadi interaksi sosial, selanjutnya orang-orang membentuk masyarakat harus memiliki kesadaran bahwa mereka merupakan satu kesatuan.
      Masyarakat merupakan suatu sistem hidup bersama, dimana mereka menciptakan nilai, norma, dan kebudayaan bagi kehidupan mereka. Berdasarkan pendapat para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat adalah
1)      Kumpulan
2)      Sudah terbentuk dengan lama
3)      Sudah memiliki sistem dan struktur sosial sendiri
4)      Memiliki kepercayaan (nilai), sikap, dan perilaku yang dimiliki bersama
5)      Adanya kesinambungan dan pertahanan diri
6)      Memiliki kebudayaan

C.     MASYARAKAT DESA DAN KOTA
      Masyarakat kota dan desa memiliki perhatian yang berbeda. Desa yang mengalami perubahan sehingga unsur-unsur kota masuk didalamnya. Begitu pula kota, meskipun disebut sebuah kota, ciri-ciri atau kebiasaan desa masih ada yang melekat didalamnya. Sebuah kota seringkali ditandai dengan kehidupan yang ramai, wilayahnya luas, dan mata pencaharian penduduknya bermacam-macam, sedangkan kehidupan didesa malah sebaliknya. Di desa, yang diutamakan adalah perhatian khusus terhadapkeperluan pokok, fungsi-fungsi yang lain diabaikan. Lain halnya dengan pandangan orang kota, mereka melihat selain kebutuhan pokok, pandangan masyrakat sekitarnya sangat mereka perhatikan.

D.    MASYARAKAT SADAR RISIKO (RISK SOCIETY)
       Topik tentang masyarakat risiko ini telah menjadi pembicaraan ilmuwan sosial dan para intelektual lain. Dengan munculnya gagasan mengenai kesadaran masyarakat risiko memunculkan konsekuensi yang harus dipikirkan oleh para ilmuwan lain, terutama yang berhubungan dengan formasi masyarakat untuk mengembangkan kesadaran masyarakat risiko. Masyarakat risiko adalah masyarakat yang seluruh sendi kehidupannyadibangun diatas kesadaran akan risiko.

E.     INTERAKSI SOSIAL DAN PELAPISAN SOSIAL
1.      Interaksi Sosial
     Interaksi adalah proses dimana orang-orang berkomunikasi saling memengaruhi dalam pikiran dan tindakan.
a.       Interaksi Soial Sebagai Faktor Utama Dalam Kehidupan
Adapun faktor-faktor yang mendasari berlangsungnya interaksi sosial, yaitu faktor imitasi; faktor sugesti; faktor identifikasi; dan faktor simpati.
b.      Syarat-Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Syarat-syarat terjadinya interaksi sosial yaitu, adanya kontak sosial dan adanya komunikasi. Selain itu, kontak sosial dapat terjadi dan berlangsung dalam dua bentuk, yaitu antara orang perorangan dan antara kelompok dengan kelompok.
c.       Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial
1)      Bentuk Interaksi Asosiatif
Kerja sama (cooperation)
Kerja sama timbul karena orientasi orang perorangan terhadap kelompoknya dan kelompok lain. Sehubungan dengan kerja sama, maka ada tiga bentuk kerja sama yaitu, Bargaining, Cooperation, dan Coalition.
Akomodasi (accomodation)
Istilah akomodasi digunakan dalam dua arti, yaitu untuk menunjuk pada suatu keadaan, berarti suatu kenyataan adanya suatu keseimbangan dalam interaksi antara orang perorangan dan kelompok manusia, sehubungan dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Adapun bentuk-bentuk akomodasi, yaitu; coercion, compromise, arbitration, mediation, conciliation, tolerantion, stelemate, dan adjudication.
2)      Bentuk Interaksi Disosiatif
Persaingan (competition)
Persaingan adalah bentuk interaksi yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang bersaing untuk mendapatkan keuntungan tertentu bagi dirinya dengan cara menarik perhatian atau mempertajam prasangka yang telah ada tanpa menggunakan kekerasan.
Kontravensi (contravention)
Kontravensi bentuk interaksi sosial ditandai oleh adanya ketidakpastian terhadap diri seseorang, perasaan tidak suka yang disembunyikan dan kebencian terhadap kepribadian orang, akan tetapi gejala-gejala tersebut tidak sampai menjadi pertentangan atau pertikaian.
Pertentangan (conflict)
Pertentangan adalah suatu bentuk interaksi individu atau kelompok sosial yang berusaha untuk mencapai tujuannya dengan jalan menentang pihak lain disertai ancaman atau kekerasan. Pertentangan memiliki bentuk-bentuk yang khusus, antara lain pertentangan pribadi, pertentangan rasional, pertentangan kelas sosial, dan pertentangan politik.

F.      STRATIFIKASI SOSIAL DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT
      Setiap individu adalah anggota dari suatu kelompok, tetapi tidak setiap warga dari suatu masyarakat hanya menjadi anggota dari satu kelompok tertentu , ia bisa menjadi anggota lebih dari satu kelompok sosial.
      Individu yang berada pada stratifikasi bawah akan meniru gaya hiup yang dikembangkan kelompok stratifikasi atasnya. Keberhasilan peniruan ini tergantung kepada:
1)      Kemampuan orang yang meniru, karena tidak semua gaya hidup dapat ditiru
2)      Penerimaan kelompok luar yang dijadikan kelompok  acuan
3)      Dalam posisi individu sudah keluar dari keanggotaan suatu kelompok dan belum diterima sebagai anggota kelompok yang diacu, maka ia berada pada posisi pinggiran atau marginal man.




BAB V
MANUSIA DAN PERADABAN

A.    HAKIKAT NILAI MORAL DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
1.      Nilai Dan Moral Sebagai Materi Pendidikan
     Ada beberapa bidang filsafat yang berhubungan dengan cara manusia mencari hakikat sesuatu, salah satu diantaranya ialah aksiologi. Bidang ini disebut filsafat nilai, bidang memiliki dua kajian utama yaitu estetika dan etika. Estetika berhubungan dengan keindahan, sedangkan etika berhubungan dengan kajian baik buruk dan benar salah.
2.      Nilai Moral Di Antara Pandangan Objektif Dan Subjektif Manusia
    Manusia sebagai makhluk yang bernilai akan memaknai nilai dalam dua konteks, pertama akan memandang nilai sebagai nilai yang objektif, apabila dia memandang nilai itu ada meskipun tanpa ada yang menilainya, bahkan memandang nilai telah ada sebelum adanya manusia sebagai penilai. Pandangan kedua memandang nilai itu subjektif, artinya nilai sangat tergantung pada subjek yang menilainya.
3.      Nilai Di Antara Kualitas Primer Dan Kualitas Sekunder
      Kualitas primer, yaitu kualitas dasar yang tanpa itu objek tidak dapat menjadi ada, seperti panjang dan beratnya batu sudah ada sebelum batu itu dipahat (menjadi patung misalnya). Kualitas primer ini merupakan bagian dari eksistensi objek, objek tidak ada tanpa adanya kualitas primer ini. Sedangkan kualitas sekunder, yaitu kualitas yang dapat ditangkap oleh pancaindra, seperti warna, rasa, dan bau. Kualitas ini terpengaruh oleh tingkat subjektivitas. Seperti halnya kualitas primer, kualitas sekunder pun merupakan bagian eksistensi atau realitas objek.
4.      Metode Menemukan Dan Hierarki Nilai Dalam Pendidikan
     Nilai berhubungan erat dengan kegiatan manusia menilai. Menilai berarti menimbang, yaitu kegiatan manusia menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain, yang selanjutnyadiambil suatu keputusan. Oleh karena itu, nilai itu memiliki polaritas dan hierarki, yaitu:
a)      Nilai menampilkan diri dalam aspek positif dan aspek negatif yang sesuai (polaritas) seperti baik dan buruk, keindahan dan kejelekan dan lain sebagainya.
b)      Nilai tersusun secara hierarkis, yaitu hierarki urutan pentingnya. Dalam posisi hierarki nilai ini, pendidikan pada hakikatnya merupakan upaya membantu peserta didik untuk menyadari nilai-nilai yang dimilikinya dan berupaya memanfasilitasi mereka agar terbuka wawasan da perasaannya.
5.      Pengertian Nilai
     Karena bervariasinya pengertian nilai, sulit untuk mencari kesimpulan yang komperehensif agar mewakili setiap kepentingan dan berbagai sudut pandang, tetapi ada hal yang disepakati dari semua pengertian nilai tersebut, bahwa nilai berhubungan dengan manusia, selanjutnya nilai itu penting.
6.      Makna Nilai Bagi Manusia
    Dalam hubungan ini, pendidikan ISBD tidak mempersoalkan dari mana nilai tersebut, tetapi lebih memerhatikan pentingnya nilai itu bagi manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai itu harus jelas, harus semakin diyakini oleh individu dan harus diaplikasikan dalam perbuatan. Yang penting dalam upaya pendidikan, keyakinan individu pada nilai harus menyentuh sampai hierarki nilai tertinggi, sebab seperti yang diungkapkan oleh Sheller, sebagai berikut:
a)      Nilai tertinggi menghasilkan kepuasan yang lebih mendalam
b)      Kepuasan jangan dikacaukan dengan kenikmatan (meskipun kenikmatan merupakan hasil kepuasan)
c)      Semakin kurang kerelatifan nilai, semakin tinggi keberadaannya, nilai tertinggi dari semua nilai adalah nilai mutlak.

B.     PROBLEMATIKA PEMBINAAN NILAI MORAL
1.      Pengaruh Kehidupan Keluarga Dalam Pembinaan Nilai Moral
    Keluarga sebagai bagian dari masyarakat, terpengaruh oleh tuntutan kemajuan yang terjadi, namun masih banyak orang yang meyakini bahwa nilai moral itu hidup dan dibangun dalam lingkungan keluarga. Setiap hari dalam keluarga terjadi perubahan-perubahan yang dramatis, meskipun tidak sampai masuk kategori menakutkan.
       Persoalan merosotnya intensitas interaksi dalam keluarga, serta terputusnya komunikasi yang harmonis antara orang tua dengan anak, mengakibatkan merosotnya fungsi keluarga dalam pembinaan nilai moral anak. Keluarga bisa jadi tidak lagi menjadi tempat untuk memperjelas nilai ynag harus dipegang bahkan sebaliknya menambah kebingungan nilai bagi anak. Dalam posisi seperti inilah institusi pendidikan perlu memfasilitasi peserta didik untuk melakukan klarifikasi nilai.
2.      Pengaruh Teman Sebaya Terhadap Pembinaan Nilai Moral
     Setiap orang yang menjadi teman anak akan menampilkan kebiasaan yang dimilikinya, pengaruh pertemanan ini akan berdampak positif manakala isu dan kebiasaan teman itu positif pula. Sebaliknya akan berdampak negatif bila sikap dan tabiat yang ditampilkan memang buruk.
3.      Pengaruh Figur Otoritas Terhadap Perkembangan Nilai Moral Individu
    Jika seorang anak atau remaja mengungkapkan kebingungannya dihadapan orang dewasa, maka dapat dipredikisi reaksi orang dewasa tersebut, langsung ataupun tidak langsung orang dewasa atau orang tua akan berusaha menunjukan jalan mana yang paling bijak dan paling benar atau menunjukan jalan yang baik bagi anak atau remaja tersebut. Dengan kata lain, orang tua belum meyakini bahwa anak-anak telah menjadi “manusia”. Anak-anak diharuskan mengikuti anjuran yang disarankan, mereka juga harus mengikuti harapan atau aspirasi yang dimiliki orang tua. Masih ada kecenderungan untuk menganggap bahwa keyakinan orang dewasa tetap harus dipertahankan, anak harus memiliki keyakinan seperti keyakinannya.
4.      Pengaruh Media Komunikasi Terhadap Perkembangan Nilai Moral
     Sekarang pun muncul alat-alat cetak terbaru dengan komputerisasi yang relatif lebih ekonomis. Buku komik muncul dan penerbit melihat peluang besar dalam segmen pasar anak. Buku-buku ini menjadi penyampai cerita kriminl, horor, dan semua bentuk kejanggalan kehidupan. Pada saat yang bertepatan, surat kabar dan majalahpun berubah drastis, isinya lebih banyak menampilkan cerita kriminal, seks dan korupsi. Dalam hal ini, tidak bermaksud menyatakan bahwa alternatif-alternatif yang ditawarkan harus dihapuskan, atau menyebutkan bahwa anak-anak dapat mengambil pelajaran dari semua kejadian tersebut. Kami ingin mengungkapkan bahwa jika hanya dirinya sendiri, maka anak tidak akan mampu mengambil manfaat besar dari jutaan pilihan yang tersedia.
5.      Pengaruh Otak Atau Berpikir Terhadap Perkembangan Nilai Moral
     Berpikir adalah hasil kerja otak, namun otak tidak bekerja secara sederhana dalam pengertian stimulus respons dan juga tidak menyimpan “fakta” secara sederhana sebagai referensi masa depan. Dengan demikian, pendidikan tentang nilai moral yang menggunakan pendekatan berpikir dan lebih berorientasi pada upaya-upaya untuk mengklarifikasi nilai moral sangat dimungkinkan bila melihat eratnya hubungan antara berpikir dengan nilai itu sendiri, meskipun diakui bahwa ada pendekatan lain dalam pendidikan nilai yang memiliki orientasi berbeda.
6.      Pengaruh Informasi Terhadap Perkembangan Nilai Moral
     Munculnya berbagai informasi, apalagi bila informasi itu sama kuatnya, maka akan memengaruhi disonansi kognitif yang sama, misalnya saja pengaruh tuntutan teman sebaya dengan tuntutan aturan keluarga dan aturan agama akan menjadi konflik internal pada individu yang akhirnya akan menimbulkan kebingungan nilai bagi individu tersebut. Kebingungan ini bisa diperparah apabila lembaga pendidikan peserta didik diberi lagi informasi tambahan yang berbeda dengan tiga tuntutan tersebut tanpa memberikan solusi untuk menemukan nilai dirinya.


C.     MANUSIA DAN HUKUM
      Disepakati bahwa manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang selalu berinteraksi dan membutuhkan bantuan dengan sesamanya. Dalam konteks hubungan dengan sesama seperti itulah perlu adanya keteraturan sehingga setiap individu dapat berhubungan secara harmonis dengan individu lain disekitarnya. Untuk terciptanya keteraturan tersebut, maka diperlukan aturan yang disebut oleh kita hukum. Hukum dalam masyarakat merupakan tuntutan, mengingat bahwa kita tidak mungkin menggambarkan hidupnya manusia tanpa atau diluar masyarakat. Maka, manusia-masyarakat dan hukum merupakan pengertian yang tidak dapat dipisahka, sehingga pemeo “ubi societes ibi ius” (dimana ada maysarakat disana ada hukum) adalah tepat.
Hukum diciptakan dengan tujuan yang berbeda-beda , ada yang menyatakan bahwa tujuan hukum adalah keadilan, ada juga yang menyatakan kegunaan dan ada juga yang menyatakan kepastian, dsb.

D.    HUBUNGAN HUKUM DAN MORAL
      Antara hukum dan moral terdapat hubungan yang erat sekali, ada pepatah Roma mengatakan “Quid leges sine moribus?”  Apa artinya undang-undang kalau tidak disertai moralitas? Dengan demikian, hukum tidak akan berarti tanpa dijiwai moralitas, hukum akan kosong tanpa moralitas.
Meskipun hubungan hukum dan moral begitu erat, namun hukum dan moral tetap berbeda sebab dalam kenyataannya “mungkin” ada hukum yang bertentangan dengan moral atau ada undang-undang yang immoral, yang berarti terdapat ketidakcocokan antara hukum dan moral. Untuk itu dalam konteks ketatanegaraan Indonesia ini apalagi dalam konteks pengambilan keputusan hukum membutuhkan moral, sebagaimana moral membutuhkan hukum.
  


BAB VI
MANUSIA, KERAGAMAN, DAN KESEDERAJATAN

A.    MAKNA KERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN
1.      Makna Keragaman
       Keragaman berasal dari kata “ragam” yang menurut KBBI artinya: (1) tingkah laku; (2) macam, jenis; (3) lagu, musik, langgam; (4) warna, corak, ragi; dan (5) ling , laras (tata bahasa). Keragaman berarti perihal beragam-ragam, berjenis-jenis, perihal ragam, hal jenis.
Keragaman yang dimaksud disini adalah suatu kondisi dalam masyarakat dimana terdapat perbedaan-perbedaan dalam berbagai bidang,terutama suku bangsa dan ras, agama dan keyakinan, ideologi, adat kesopanan, serta situasi ekonomi.
2.      Makna Kesederajatan
     Kesederajatan berasal dari kata “sederajat” yang menurut KBBI artinya sama tingkatan (pangkat dan kedudukan). Dengan demikian, konteks kesederajatan di sini adalah suatu kondisi dimana dalam perbedaan dan keragaman yang ada manusia tetap memiliki satu kedudukan yang sama dan satu tingkatan hierarki.

B.     UNSUR-UNSUR KERAGAMAN DALAM MASYARAKAT INDONESIA
1.      Suku Bangsa Dan Ras
    Suku bangsa yang menempati wilayah Indonesia dari sabang sampai merauke sangat beragam. Adapun  ras muncul karena adanya pengelompokan besar manusia memiliki ciri-ciri biologis lahiriah yang sama seperti rambut, warna kulit, ukuran-ukuran tubuh, mata dan ukuran kepala.
2.      Agama Dan Keyakinan
     Agama mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan yang dimaksud berasal dari suatu kekuatan gaib yang tak dapat ditangkap dengan pancaindra, namun mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap kehidupan manusia sehari-hari.
3.      Ideologi Dan Politik
     Ideologi ialah suatu istilah umum bagi sebuah gagasan yang berpengaruh kuat terhadap tingkah laku dalam situasi khusus karena merupakan kaitan antara tindakan dan kepercayaan yang fundamental. Ideologi membantu untuk lebih memperkuat landasan moral bagi sebuah tindakan. Politik mencakup baik konflik antara individu-individu dan kelompok untuk memperoleh kekuasaan, yang digunakan oleh pemenang bagi keuntungannya sendiri atas kerugian dari yang ditaklukan. Politik juga bermakna usaha untuk menegakkan ketertiban sosial.
4.      Tata Krama
     Tata krama yang dianggap dari bahasa jawa yang berarti “adat, sopan santun, basa-basi”. Pada dasarnya ialah segala tindakan, perilaku, adat istiadat, tegur sapa, ucap dan cakap sesuai kaidah atau norma tertentu. Tata krama dibentuk dan dikembangkan oleh masyarakat, tata krama terdiri atas aturan-aturan yang kalau dipatuhi diharapkan akan tercipta interaksi sosial yang tertib dan efektif di dalam masyarakat yang bersangkutan.
5.      Kesenjangan Ekonomi
      Bagi sebagian negara berkembang, perekonmian akan menjadi salah satu perhatian yang harus ditingkatkan. Namun umumnya, masyarakat kita berada digolongan tingkat ekonomi menengah ke bawah.
6.      Kesenjangan Sosial
      Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk dengan bermacam tingkat, pangkat, dan strata sosial yang hierarkis. Hal ini, dapat terlihat dan dirasakan dengan jelas dengan adanya penggolongan orang berdasarkan kasta. Hal inilah yang dapat menimbulkan kesenjangan sosial yang tidak saja dapat menyakitkan, namun juga membahayakan bagi kerukunan masyarakat.

C.     PENGARUH KERAGAMAN TERHADAP KEHIDUPAN BERAGAMA, BERMASYARAKAT, BERNEGARA, DAN KEHIDUPAN GLOBAL
     Berdirinya negara indonesia dilatarbelakangi oleh masyarakat yang demikian majemuk, baik secara etnis, geografis, kultural, maupun religius. Kita tidak dapat mengingkari sifat pluralistis bangsa kita. Kita perlu memberi tempat bagi berkembangnya kebudayaan suku bangsa dan kebudayaan beragama yang dianut oleh warga negara indonesia.
     Manusia secara kodrat diciptakan sebagai makhluk yang mengusung nilai harmoni. Perbedaan yang mewujud baik secara fisik maupun mental, sebenarnya merupakan kehendak Tuhan yang seharusnya dijadikan sebagai sebuah potensi untuk menciptakan sebuah kehidupan yang menjunjung tinggi toleransi. Dikehidupan sehari-hari, kebudayaan suku bangsa dan kebudayaan agama, bersama-sama dengan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara, mewarisi perilaku dan kegiatan kita. Berbagai kebudayaan itu beriringan, saling melengkapi, bahkan mampu untuk saling menyesuaikan (fleksibel) dalam kehidupan sehari-hari.

D.    PROBLEMATIKA DISKRIMINASI
     Diskriminasi adalah setiap tindakan yang melakukan pembedaan terhadap seseorang atau sekelompok orang berdasarkan ras, agama, suku, etnis, kelompok, golongan, status, dan kelas sosial-ekonomi, jenis kelamin, kondisi fisik tubuh, usia, orientasi seksual, pandangan ideologi dan politik, serta batas negara, dan kebangsaan seseorang.
    Problematika lain yang timbul dan harus di waspadai adalah adanya disintegrasi bangsa. Dari kajian yang dilakukan terhadap berbagai kasus disintergrasi bangsa dan bubarnya sebuah negara, maka dapat disimpulkan bahwa adanya enam faktor utama yang secara gradual bisa menjadi penyebab utama proses itu, yaitu: kegagalan kepemimpinan; krisis ekonomi yang akut dan berlangsung lama; krisis politik; krisis sosial; demoralisasi tentara dan polisi; dan intervensi asing.
1.      Manusia Beradab Dalam Keragaman
     Hubungan antara kebudayaan dengan peradaban sangat erat, peradaban adalah salah satu perwujudan kebudayaan yang bernilai tinggi, indah, dan harmonis yang mencerminkan tingkat kebudayaan masyarakat yang bersangkutan, misalnya adab, sopan santun, budi pekerti, budi bahasa, seni dan sebagainnya.
    Realitas keragaman budaya bangsa ini tentu membawa konsekuensi munculnya persoalan gesekan antarbudaya, yang memengaruhi dinamika kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, manusia yang beradab harus bersikap terbuka dalam melihat semua perbedaan dalam keragaman yang ada, menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dan menjadikan keragaman sebagai kekayaan bangsa, alat pengikat persatuan seluruh masyarakat dalam kebudayaan yang beraneka ragam.
   Faktor-faktor terjadinya perubahan sosial-budaya ada dua macam yaitu dari luar masyarakat dan berasal dari dalam itu sendiri. Yang berasal dari luar yaitu, Akultrasi, Difusi, Penetrasi, Invasi, Asimilasi, Hibridisasi dan Milenarisasi. Sedangkan faktor yang berasal dari dalam yaitu, Inovasi, Discovery, Invention dan Enkulturasi. Adapun faktor dari dalam yang lain yaitu menghargai hasil  karya orang lain, adanya keterbukaan dalam masyarakat, adanya toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang (deviation) dan penduduk yang heterogen.




BAB VII
MANUSIA, SAINS, TEKNOLOGI, DAN SENI

A.    PENGERTIAN SAINS, TEKNOLOGI, DAN SENI
1.      Sains
     Sains berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam semesta secara sistematis, bukan hanya kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, dan prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.
     Kata dasar yang diambil dari kata scienta yang berarti knowledge (ilmu). Tidak semua ilmu itu boleh dianggap sains. Yang dimaksud ilmu sains adalah ilmu yang dapat diuji (hasil dri pengamatan sesungguhnya) kebenarannya dan dikembangkan secara bersistem dengan kaidah-kaidah tertentu berdasarkan kebenaran atau kenyataan semata sehingga pengetahuan yang dipedomani tersebut boleh dipercayai, melalui eksperimen secara teori.
2.      Konsep Teknologi
      Dalam kepustakaan teknologi terdapat aneka ragam pandapat yang menyatakan bahwa teknologi adalah transformasi (perubahan bentuk) dari alam. Teknologi adalah realitas/kenyataan yang diperoleh dari dunia ide, teknologi dalam makna subjektif adalah keseluruhan peralatan dan prosedur yang disempurnakan sampai pernyataan bahwa teknologi adalah segala hal, dan segala hal adalah teknologi.
      Istilah “teknologi” berasal dari kata techne dan logia. Kata Yunani kuno techne berarti seni kerajinan. Dari techne kemudian lahirlah perkataan technikos yang berarti seseorang yang memiliki keterampilan tertentu. Adapun tiga macam teknologi yang sering dikemukakan oleh para ahli, yaitu teknologi modern; teknologi madya; dan teknologi tradisional.
3.      Seni
      Janet Woll mengatakan bahwa seni adalah produk sosial. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, seni adalah keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusannya, keindahannya, dan sebagainya) seperti tari, lukis, dan ukir. Konsep pendidikan yang memerlukan ilmu dan seni ialah proses atau upaya sadar antara manusia dengan sesama secara beradab.

B.     MAKNA SAINS, TEKNOLOGI, DAN SENI BAGI MANUSIA
1.      Perkembangan Teknologi
     Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat mendatangkan kemakmuran materi. Adanya perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi menimbulkan cabang ilmu pengetahuan baru antara lain; teknologi modern, teknologi hutan, teknologi gedung (metalurgi), teknologi transportasi, dan lain-lain. Dengan menggunakan cabang-cabang ilmu pengetahuan baru tersebut, kita dapat memperoleh hasil, misalnya penggunaan teknik nuklir dan pengunaan teknlogi hutan.
2.      IPTEK Dan Nilai
      Dalam menghadapi era teknologi modern dan industrialisasi, maka dituntut adanya keahlian untuk menggunakan, mengelola, dan senantiasa menyesuaikan dengan teknologi-teknologi dan ilmu pengetahuan yang baru. Selain itu, sikap mental dan nilai hidup harus mengarah terhadap nilai tersebut.
    Teknologi dapat membawa bencana, sebaliknya juga telah terbukti bahwa bagi mereka yang dapat memanfaatkannya, teknologi tersebut dapat menolong mereka dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

C.     MANUSIA SEBAGAI SUBJEK DAN OBJEK IPTEK
      Berkat kemajuan ilmu dan teknologi manusia dapat menciptakan alat-alat serta perlengkapan yang canggih untuk berbagai kegiatan, sehingga dalam kegiatan hidupnya tersedia berbagai kemudahan. Hal ini memungkinkan manusia dapat melakukan kegiatan lebih efektif dan efisien. Dengan ilmu dan teknologi tumbuhlah berbagai industri yang hasilnya dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang, antara lain; bidang pertanian, peternakan, perikanan; bidang kedokteran dan kesehatan; bidang telekomunikasi; dan bidang pertahanan dan keamanan.
    

D.    DAMPAK PENYALAHGUNAAN IPTEK BAGI KEHIDUPAN
       Permasalahan yang timbul akibat dari adanya kemajuan teknologi adalah adanya dampak negatif yang disebabkan oleh kemajuan teknologi tersebut diantaranya: nuklir, polusi yang mliputi: pencemaran air dan tanah; pencemaran udara; pencemaran suara; dan pencemaran sosial dan budaya, klonasi/kloning, dan efek rumah kaca.





BAB VIII
MANUSIA DAN LINGKUNGAN

A.    PENGERTIAN MANUSIA DAN LINGKUNGAN
1.      Pengertian Manusia
      Manusia adalah makhluk hidup ciptaan Tuhan dengan segala fungsi dan potensinyayang tunduk pada aturan hukum alam, mengalami kelahiran, pertumbuhan, perkembangan, dan mati dan seterusnya, serta terkait berinteraksi dengan alam dan lingkungannya dalam sebuah hubungan timbal balik baik itu positif maupun negatif.
2.      Pengertian Lingkungan
     Lingkungan adalah suatu media dimana makhluk hidup tinggal, mencari penghidupannya, dan memiliki karakter serta fungsi yang khas yang mana terkait secara timbal balik dengan keberadaan makhluk hidup yang menempatinya, terutama manusia yang memiliki peranan yang lebih kompleks dan riil.

B.     KORELASI ANTARA MANUSIA DENGAN LINGKUNGAN
1.      Pengertian Ekologi
      Ekologi berasal dari bahasa Yunani, ekologi terdiri atas dua suku kata yaitu oikos yang berarti rumah tangga dan logos yang berarti firman atau ilmu. Jadi, secara harfiah ekologi berarti ilmu kerumahtanggaan. Ada beberapa definisi untuk ekologi yang kita kenal yaitu:
a)      Ekologi ialah cabang biologi yang mempelajari hubungnan timbal balik manusia dengan lingkungannya.
b)      Ekologi ialah studi ilmiah tentang interaksi yang menentukan penyebaran dan kepadatan makhluk hidup.
c)      Ekologi adalah biologi lingkungan
2.      Lingkungan Hidup Manusia
      Manusia hidup, tumbuh, dan berkembang dalam lingkungan alam dan sosial-budayanya. Dalam lingkunga alam manusia hidup dalam sebuah ekosistem yakni suatu unit atau satuan fungsional dari makhluk-makhluk hidup dengan lingkungannya.

C.     PENGARUH MANUSIA PADA ALAM LINGKUNGAN HIDUPNYA
      Tampaklah disini manusia sedikit demi sedikit mulai menyesuaikan diri pada alam lingkungan hidupnya. Bahkan lebih dari pada itu, manusia telah mengubah semua komunitas biologis ditempat mereka hidup. Perubahan alam lingkungan hidup manusia tampak jelas di kota-kota, dibandingkan dengan di hutan rimba dimana penduduknya masih sedikit serta primitif.
     Perubahan alam lingkungan hidup manusia akan berpengaruh baik secara positif ataupun negatif. Berpengaruh baik bagi manusia karena manusia mendapatkan keuntungan dari perubahan tersebut dan berpengaruh tidak baik karena dapat mengurangi kemampuan alam lingkungan hidupnya untuk menyokong kehidupannya.

D.    SUMBER ALAM
     Sumber alam dapat digolongkan kedalam dua bagian yaitu: Sumber alam yang dapat diperbaharui (renewable resources) atau disebut pula sumber-sumber alam biotik. Yang tergolong kedalam sumber alam ini adalah semua makhluk hidup, hutan, hewan-hewan, dan tumbuh-tumbuhan.Sumber alam yang tidak dapat diperbaharui (nonrenewable resources) atau disebut pula sebagai golongan sumber alam abiotik.         Yang tergolong  kedalam  sumber alam abiotik adalah tanah, air, bahan-bahan galian, mineral, dan bahan-bahan tambang lainnya.
1.      Penggunaan Sumber-Sumber Alam
Berbagai cara telah dilakukan manusia dalam menggunakan sumber-sumber alam berupa tanah, air, fauna, flora, bahan-bahan galian, dsb.
a)      Pertanian Dan Tanah
Dengan adanya kemajuan dalam bidang pertanian,  penggunanan tanah untuk pertanian dapat digunakan secara efisien untuk meningkatkan hasil pertanian.
b)      Hutan
Peranan hutan dapat digolongkan menjadi dua yakni: (1) hutan pelindung, yaitu melindungi tanah dari erosi, kehilangan humus, dan air tanah; (2) hutan penghasil, yaitu hutan ditanami jenis-jenis tanaman tertentu yang dapat dipungut hasilnya.
c)      Air
Manusia menggunakan air dengan baik dan berusaha mencegahnya dari pencemaran-pencemaran yang mengganggu berjalannya fungsi vital air dalam kehidupan manusia.
d)     Bahan Tambang
Begitu banyak mineral dan bahan tambang lain yang dapat digali dan ditemui serta dimanfaatkan secara seimbang dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, kita harus menemukan cara untuk menggunakannya setepat dan sehemat mungkin mengingat bahan tambang adalah sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui.

E.     PERMASALAHAN-PERMASALAHAN YANG TIMBUL
1.      Masalah Erosi Dan Banjir
   Erosi merupakan gejala alamiah dan sering kali pula disebut sebagai erosi geologi. Peristiwa erosi terjadi secara perlahan-lahan terutama terjadi dengan bantuan media air disungai yang mengikis dasar dan tepi sungai. Peristiwa erosi ini juga dipercepat dengan adanya penggunaan tanah yang tidak tepat oleh manusia.
2.      Pencemaran Lingkungan
a)      Pencemaran Tanah
Sampah-sampah industri pertanian  yang menggunakan pupuk buatan telah menyebabkan pencemaran tanah. Sampah-sampah tersebut adalah bahan-bahan kimia yang bila terkumpul dalam jumlah tertentu, dapat membahayakan kehidupan melalui tanah dimana pepohonan tumbuh  berkembang.
b)      Pencemaran Air
Misalnya melalui pembuangan limbah pabrik, terkena pestisida, herbisida, dan insektisida yang digunakan manusia dalam pertanian  dan sebagainya.
c)      Pencemaran Udara
Pencemaran udara terjadi saat komponen udara berada dalam jumlah di atas ambang normal dan membahayakan lingkungan, misalnya pengguanaan kendaraan yang menimbulkan polusi.
d)     Pencemaran Suara
Kebisingan yang terjadi di kota-kota besar sebagaian akibat dari berbagai jenis suara yang dikeluarkan mesin-mesin atau kendaraan-kendaraan yang jumlahnya semakin meningkat secara tidak terkontrol.
3.      Kehutanan
      Hutan di Indonesia berfungsi sebagai paru-paru dunia karena menyerap karbon dioksida. Fungsi hutan yang lain sebagai pengatur tata air, iklim, pencegah erosi, dsb. Pembangunan dalam bidang kehutanan diarahkan untuk menunjang perekonomian negara dan memenuhi kebutuhan dalam dan luar negeri. Pemerintah melakukan usaha-usaha untuk meningkatkan produksi hutan, antara lain:
a)      Melarang penebangan kayu tanpa izin dari pemerintah;
b)      Mencabut izin pengusaha HPH yang melanggar peraturan;
c)      Menebang hutan secara selektif;
d)     Melakukan peremajaan tanaman;
e)      Melakukan rehabilitasi dan reboisasi areal hutan yang rusak; dan
f)       Melakukan penanaman di lahan kritis.

F.      IPTEK DAN KELESTARIAN HIDUP
1.      Pandangan Baru Terhadap Lingkungan
      Masalah lingkungan hidup sebenarnya bukan persoalan yang baru. Kerusakan lingkungan oleh aktivitas manusia yang makin meningkat, antara lain tercemarnya lingkungan oleh pestisida serta limbah industri dan transportasi, rusaknya habitat tumbuhan dan hewan langka, serta menurunnya nilai estetika alam, merupakan beberapa masalah lingkungan hidup.
     Pemanasan global pada tiga dekade akhir abad ke-20 telah menimbulkan peningkatan suhu, perubahan iklim terutama curah hujan, peningkatan intensitas dan kualitas badai, dan kenaikan suhu serta permukaan air laut.
2.      Dampak Perkembangan Dan Penerapan IPTEK, Serta Perubahan Sosial Ekonomi Terhadap Masalah Lingkungan Hidup
a)      Dampak Positif Bagi Lingkungan
Bidang Industri: diperluasnya lapangan kerja dengan berdirinya industri atau pabrik baru, perkembangan industri bertambah baik, berkembangnya tanaman sebagai bahan baku industri, diciptakannya mesin daur ulang, peningkatan industri ekspor migas dan nonmigas, memperoleh devisa dari industri pariwisata. Bidang Pertanian: bertambahnya varietas baru dan unggul, peningkatan hasil produksi pertanian, dikenal dan dipakainya alat-alat pertanian modern, dikenal sistem pemupukan dan obat-obat hama, pemberantasan hama dengan pesawat terbang di perkebunan.
b)      Dampak Negatif Bagi Lingkungan Hidup
Bidang Lingkungan Alam: rusaknya lingkungan alam karena adanya industri/pabrik, banjir dan erosi, pencemaran tanah, pencemaran air, pencemaran udara, semakin sempitnya lahan pertanian, perkebunan, peternakan, dan kehutanan, serta makhluk hidup lain terkena racun akibat penyemprotan pestisida.


G.    MANUSIA DENGAN LINGKUNGAN SOSIAL BUDAYA
       Lingkungan yang berpengaruh pada manusia ini sangat bervariasi baik dalam jenis dan sifatnya, dalam jumlah, kuantitas dan volumenya, kekuatan dan daya tekannya, kualitasnya, hasrat dan dorongan manusia untuk membutuhkannya. Demikian pula, ragam lingkungan seperti itu sering berpengaruh pada perlakuan manusia terhadap lingkungan itu sendiri. Namun demikian, variasi lingkungan di sekitar manusia itu relatif sama, bisa saja induvidu yang ada dalam lingkungan yang sama melakukan respons dan perlakuan yang berbeda terhadap lingkungan tersebut, tergantung bagaimana cara pandang dia terhadap lingkungan, serta kemampuan dia memperlakukan lingkungan dalam memenuhi hajat hidupnya.
      Sebagai makhluk hidup budaya yang mampu membaca dan belajar, manusia bukan hanya sebagai makhluk yang ditentukan dan dipengaruhi lingkungan, akan tetapi dia mampu menyesuaikan diri, memengaruhi, mengatur, dan mengolah lingkungannya. Dengan penjelajahannya ini, terjadilah evolusi budaya, baik dalam budaya materiel maupun nonmateriel, terjadilah perkembangan sejarah, peradaban, ilmu politik, keberagaman, relasi, multimedia, ekonomi, teknologi, dan intelegensinya itu sendiri.
     Evolusi kecerdasan, evolusi teknologi, serta evolusi peradaban, berkembang terus sejalan dengan daya jelajah manusia, baik dalam bentuk fisikal terlebih lagi dalam daya cipta dan imajinasinya, namun ruang gerak manusia tetap ada batasnya  sebab sebagai makhluk alam dia tetap tunduk pada hukum alam.
     Beberapa paham yang muncul tentang hubungan manusia dengan lingkungan, yaitu Paham Kosmogini, Paham Determinisme, Paham Posibilisme, Paham Optimisme, Dan Paham Ketuhanan. Ragam paham tentang pandangan manusia terhadap alam ini masih terus berkembang dan dipegang oleh kelompok masyarakat tertentu. Namun paham apapun yang dipegang, manusia terus melakukan perubahan dalam berbagai dimensinya, termasuk dalam kehidupan sosial.

Ada beberapa teori yang berbeda untuk memulai dari mana menyelesaikan problema sosial tersebut, antara lain
1.      Teori Modernisasi
Menganggap kualitas hidup manusia ditentukan karakter mental psikologis dan sosial budayanya sendiri.
2.      Teori Human Capital (pengembangan SDM)
Memandang bahwa lingkungan sosial tergantung penguasaan IPTEK warga masyarakat di samping mental, psikologi, dan sosial budaya.
3.      Teori Dependency (ketergantungan)
Mengatakan bahwa keterbelakangan disebabkan eksploitasi pihak luar, oleh karena itu lingkungan sosial harus dilakukan atas dasar kemampuan sendiri.
4.      Teori Determinisme Geografi
Memandang bahwa kondisi lingkungan geografis menentukan corak dan kualitas hidup masyarakat.




DAFTAR PUSTAKA


Effendi, Ridwan dkk.2013.ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR.Jakarta:Kencana Prenada Media Group.
Read more...

Popular Posts

Media Sosial

Email : divabernadeta@gmail.com Facebook : Bernadeta Diva Twitter : @DivaBernadeta Instagram :bernadetha_diva_ Line: bernadethadiva
Diberdayakan oleh Blogger.
 

Designed by: Compartidísimo
Images by: DeliciousScraps©