BAB I
PENDAHULUAN
A. DASAR
PEMIKIRAN
1. Latar
Belakang Pedagogis
Fungsi dan peran seperti ini sering
menempatkan dosen pada otoritas yang berlebihan, seperti sebagai sumber
informasi tunggal dan sebagai sentral aktivitas pembelajaran, sehingga
mahasiswa mirip sebagai objek pasif, ibarat bejana kosong yang harus diisi
sejumlah informasi. “Dominasi” dosen dalam interaksi belajar mengajar di dalam
kelas seperti itu dapat menimbulkan apatisme dan sikap pasif mahasiswa karena
kreativitasnya terhambat. Akhirnya, hak tersebut berdampak mengurangi kualitas
hasil belajar.
2. Dasar Yuridis
Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional pasal 40 ayat 1 butir e dikemukakan bahwa :
“Pendidik dan tenaga kependidikan berhak memperoleh kesempatan menggunakan
sarana, prasarana, dan fasilitas pendidikan untuk menunjang kelancaran
pelaksanaan tugas”. Pasal ini memberi peluang kepada dosen untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran melalui dukungan sarana prasarana, dan fasilitas yang
memadai. Pasal ini dipertegas oleh kewajiban pendidik dan tenaga kependidikan
yang tertuang dalam pasal 40 ayat 2 butir a yang menyataakan bahwa pendidik
berkewajiban : “Menciptakan suasana yang bermakna, menyenangkan, kreatif,
dinamis, dan dialogis”. Dengan demikian, interaksi belajar yang monolog dan
komunikasi satu arah tidak lagi merupakan model pembelajaran yang tunggal sebab
banyak kritik terhadap pendekataan pembelajaran semacam ini karena sifatnya
yang indoktrinatif dapat menghalangi
aktivitas dan kreativitas mahasiswa untuk menjadikannya sebagai pribadi yang
pasif.
B. VISI, MISI, TUJUAN, DAN BAHAN ISBD
Visi ISBD adalah sebagai beikut :
“Mahasiswa selaku individu dan makhluk sosial yang beradab memiliki landasan
pengetahuan, wawasan, serta keyakinan untuk bersikap kritis, peka dan arif
dalam menghadapi persoalan soal dan budaya yang berkembang di masyarakat”.
Sementara itu, misi ISBD adalah sebagai berikut :
1. Memberikan
pengetahuan dan wawasan tentang keragaman, kesetaraan, dan martabat manusia
sebagai individu dan makhluk sosial dalam kehidupan masyarakat.
2. Memberikan
dasar-dasar nilai estetika,etika, moral, hukum, dan budaya sebagai landasan
untuk menghormati dan menghargai antara sesama manusia sehingga akan terwujud
masyarakat yang tertib, teratur, dan sejahtera.
3. Memberikan
dasar-dasar untuk memahami masalah sosial dan budaya serta mampu bersikap
kritis, analitis, dan responsif untuk memecahkan masalah tersebut secara arif
di masyarakat.
Berdasarkan visi dan misi ISBD, maka tujuan
ISBD dikembangkan sebagai berikut :
1. Mengembangkan
kesadaran mahasiswa untuk menguasai pengetahuan tentang keragaman dan
kesetaraan manusia sebagai individu dan makhluk sosial dalam kehidupan
bermasyarakat.
2. Menumbuhkan
sikap kritis, peka, dan arif pada mahasiswa dalam memahami dan memecahkan
masalah sosial-budaya dengan landasan nilai estetika, etika, moral, dan hukum
dalam kehidupan bermasyarakat.
3. Memberikan
landasan pengetahuan dan wawasan yang luas serta keyakinan kepada mahasiswa
sebagai bekal hidup bermasyarakat, selaku individu dan makhluk sosial yang
beradab dalam mempraktikan pengetahuan akademis dan keahliannya.
ISBD
dimaksudkan mempelajari bahan-bahan yang sifatnya tabu, tertutup (closed areas)
atau controversial issues yang timbul dalam bidang ekonomi, politik, sejarah,
hukum, moral, dan lain-lain.
C. PENTINGNYA
PENDEKATAN INTERDISLINER DALAM ISBD
Pentingnya pendekatan interdispliner ini diharapkan
agar mahasiswa dapat melihat masalah sosial dan budaya secara lebih luas dan
komperehensif, sehingga mereka di kemudian hari dapat berperan serta memecahkan
masalah-masalah sosial.
Penggunaan
pendekatan multidisiplin dalam proses
pembelajaran ISBD bisa menggunakan pendekatan struktural, yaitu beberapa
disiplin ilmu sosial atau disiplin ilmu budaya digunakan sebagai alat untuk
mengkaji masalah. Selanjutnya dapat juga menggunakan pendekatan fungsional,
yaitu pembelajaran yang bertitik tolak dari masalah yang terdapat dalam
masyarakat atau lingkungan mahasiswa atau masalah sosial-budaya dimana
mahasiswa terlibat secara langsung .
Bisa juga digunakan pendekatan interfield, yaitu bertitik tolak dari
ruang lingkup yang luas, misalnya saja masalah humanitis dengan tema reformasi,
pembangunan, pemilu, demokrasi, multikurtural,dan lain-lain yang di kaji dari
beberapa bidang ilmu yang cukup luas seperti Bahasa, IPA, Pendidikan, Agama,
Teknologi, dan sebagainya.
D. BEBERAPA
ALTERNATIF MODEL PEMBELAJARAN ISBD
Bila pendekatan multidisiplin atau
interdisipliner digunakan dalam ISBD, maka metode ceramah tidak bisa lagi
mendominasi aktivitas perkuliahan. Ceramah, tanya jawab, dan diskusi tentu saja
masih dipandang penting terutama untuk memberikan penjelasan dasar-dasar ilmiah
serta materi esensial yang menjadi basic
concept masalah yang akan dibahas, akan tetapi model pembelajaran problem solving, inquiry, klasifikasi
nilai, science technology and society,
social action model,serta portofolio
based learning sangat diperlukan untuk mengembangkan empat pilar pendidikan
yang dikemukakan UNESCO.
Beberapa model pembelajaran yang
disebutkan terakhir , sangat membutuhkan keterampilan mahasiswa untuk menguasai
teknik pemecahan masalah. John Dowey dalam bukunya How We Think (1910) mengemukakan langkah pemecahan masalah sebagai
berikut: (a) merasakan adanya masalah; (b) merumuskan masalah; (c) menetapkan
hipotesis atau membuat pertanyaan-pertanyaan penelitian untuk memecahkan
masalah; (d) menetapkan sumber data yang akan dijadikan objek penelitian; (e)
membuat instrumen untuk melakukan penelitian; (f) melakukan pengumpulan data;
(g) melakukan klasifikasi dan analisis data; (h) menguji hipotesis atau
pembahasan hasil penelitan; dan (i) rekomendasi.
E. PROSES
PEMBELAJARAN BERBASIS PORTOFOLIO
1. Pengertian
Istilah portofolio yang paling sering dikenal terdapat di lapangan
pemerintahan, terutama ketika menunjuk pada menteri yang tidak membawahi suatu
departemen, biasanya menteri seperti itu disebut menteri negara atau minister without portofolio,akan tetapi
didunia pendidikan istilah itu sangat berbeda dan masih relatif baru.
2. Langkah-Langkah
Pembelajaran
a) Mengidentifikasi
masalah
b) Memilih
masalah untuk kajian kelas
c) Mengumpulkan
informasi tentang masalah yang akan dikaji oleh kelas
d) Mengembangkan
portofolio kelas
e) Penyajian
portofolio
f) Kriteria
penilaian portofolio
F. CATATAN
Untuk
menilai mahasiswa, sebaiknya selain kriteria diatas, juga harus
diperhatikan keterlibatan dan aktivitas mahasiswa dalam melaksanakan tugas
tersebut sejak awal sampai akhir portofolio. Disamping itu, model pembelajaran
portofolio ini bukan dilaksanakan dalam satu kegiatan tatap muka, melainkan
merupakan proyek mahasiswa dalam satu
semester, yang penampilannya dilakukan menjelang akhir semester, kalau bisa
ada kompetisi antarkelas yang dilaksanakan bersamaan dengan pekan seni dan
kegiatan mahasiswa lainnya dengan melibatkan civitas academica dan masyarakat yang relatif luas.
BAB II
MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
A. PENGERTIAN
BUDAYA
Budaya adalah bentuk jamak dari kata
“budi” dan “daya” yang berarti cinta,
karsa dan rasa. Kata “budaya”
sebenarnya berasal dari bahasa sansekerta, budhayah,
yaitu bentuk jamak kata buddhi yang
berarti budi atau akal. Dalam bahasa Inggris, kata “budaya” berasal dari kata culture. Dalam bahasa Latin berasal dari kata colera. Colera berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, dan
mengembangkan tanah (bertani).
Dengan demikian, kebudayaan atau budaya
menyangkut keseluruhan aspek kehidupan manusia baik materiel maupun
nonmateriel. Sebagian besar ahli yang mengatakan atau mengartikan kebudayaan
seperti ini kemungkinan besar sangat dipengaruhi oleh pandangan evolusionisme, yaitu suatu teori yang
mengatakan bahwa kebudayaan itu akan berkembang dari tahapan yang sederhana
menuju tahapan yang lebih kompleks.
B. PERWUJUDAN
KEBUDAYAAN
Beberapa ilmuwan seperti Tallcott Parson (sosiolog) dan Al Kroeber (Antropolog) menganjurkan
untuk membedakan wujud kebudayaan secara tajam sebagai suatu sistem. Dimana
wujud kebudayaan itu adalah sebagai suatu rangkaian dan tindakan aktivitas
manusia yang berpola. Demikian pula J.J
. Honingmann dalam bukunya The world
of Man (1959) membagi budaya dalam tiga wujud, yaitu : (1) ideals, (2) activities, and (3) artifact.
Sejalan dengan pikiran para ahli tersebut,
Koentjaraningrat mengemukakan
bahwa kebudayaan itu dibagi atau digolongkan dalam tiga wujud, yaitu :
1) Wujud
sebagai suatu kompeks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan
peraturan.
2) Wujud
kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia
dalam bermasyarakat.
3) Wujud
kebudayaan sebagai benda-benda hasilkarya manusia.
C. SUBSTANSI
(ISI) UTAMA BUDAYA
Substansi (isi) utama kebudayaan
merupakan wujud abstrak dari segala macam ide dan gagasan manusia yang
bermunculan didalam masyarakat yang memberi jiwa kepada masyarakat itu sendiri,
baik dalam bentuk maupun berupa sistem pengetahuan, nilai, pandangan hidup,
kepercayaan, persepsi, dan etos kebudayaan.
1. Sistem
Pengetahuan
Sistem pengetahuan yang dimiliki manusia sebagai makhluk sosial
merupakan suatu akumulasi dari perjalanan hidupnya dalam hal berusaha memahami
alam sekitar. Untuk memperoleh pengetahuan tersebut, ada tiga cara yang
diperlukan, yaitu: melalui pengalaman dalam kehidupan sosial; melaui pengalaman
yang diperoleh baik di pendidikan formal maupun nonformal; melalui
petunjuk-petunjuk yang bersifat simbolis yang sering disebut sebagai komunikasi
simbolis.
2. Nilai
Nilai adalah sesuatu yang baik yang
selalu diinginkan, dicita-citakan dan dianggap penting oleh seluruh manusia
sebagai anggota masyarakat. Menurut C. Kluchohn (1905-1960) ada 5 dasar yang
bersifat universal yang menentukan orientasi nilai budaya manusia di dunia
yaitu:
a)
Hakikat
Hidup Manusia (MH)
b)
Hakikat
Karya Manusia (MK)
c)
Hakikat
Waktu Manusia (MW)
d)
Hakikat
Alam Manusia (MA)
e)
Hakikat
Hubungan Antar Manusia (MM)
3. Pandangan
Hidup
Pandangan hidup merupakan pedoman bagi
suatu bangsa atau masyarakat dalam menjawab atau mengatasi berbagai masalah
yang dihadapinya.
4. Kepercayaan
Kepercayaan mengandung arti yang lebih luas daripada agama dan
kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
5. Persepsi
Persepsi atau sudut pandang ialah suatu titik tolak pemikiran yang
tersusun dari seperangkat kata-kata yang digunakan untuk memahami kejadian atau
gejala dalam kehidupan.
6. Etos
Kebudayaan
Etos atau jiwa kebudayaan (dalam antropolog) berasal dari bahasa Inggris
berarti watak khas. Etos sering tampak pada gaya perilaku misalnya,
kegemaran-kegemaran warga masyarakatnya serta berbagai benda budaya hasil karya
mereka, dilihat dari luar oleh orang asing.
D. SIFAT-SIFAT
BUDAYA
Sifat-sifat hakiki dari kebudayaan
adalah sebagai berikut:
1) Budaya
terwujud dan tersalurkan dari pelaku manusia
2) Budaya
telah ada terlebih dahulu daripada lahirnya suatu generasi tertentu dan tidak akan
mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan.
3) Budaya
diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah lakunya.
4) Budaya
mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan
yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang, dan
tindakan-tindakan yang diizinkan.
E. SISTEM
BUDAYA
Sistem budaya merupakan komponen dari kebudayaan yang bersifat abstrak
dan terdiri atas pikiran-pikiran, gagasan, konsep, serta keyakinan dengan
demikian sistem kebudayaan merupakan bagian dari kebudayaan yang dalam bahasa
Indonesia lebih lazim disebut sebagai istiadat. Sistem kebudayaan suatu daerah
akan menghasilkan jenis-jenis kebudayaan yang berbeda. Jenis kebudayaan
tersebut dikelompokkan menjadi dua yaitu kebudayaan materiel dan kebudayaan
nonmateriel. Selain itu, kebudayaan juga dapat dilihat dari dimensi wujudnya,
yakni: sistem budaya; sistem sosial; dan sistem kebendaan.
F. MANUSIA
SEBAGAI PENCIPTA DAN PENGGUNA KEBUDAYAAN
Tercipta atau terwujudnya suatu kebudayaan adalah sebagai hasil
interaksi antara manusia dengan segala isi alam raya ini. Dengan sumber-sumber kemampuan
manusia seperti akal, inteligensi, dan intuisi; perasaan dan emosi; kemauan;
fantasi; dan perilaku, maka nyatalah bahwa manusia menciptakan kebudayaan.
Manusia merupakan makhluk yang berbudaya, melalui akalnya manusia dapat
mengembangkan kebudayaan.
G. PENGARUH
BUDAYA TERHADAP LINGKUNGAN
Suatu kebudayaan memancarkan suatu ciri khas dari masyarakat dapat
disimpulkan bahwa kebudayaan yang berlaku dan dikembangkan dalam lingkungan
tertentu berimplikasi terhadap pola tata laku, norma, nilai, dan aspek
kehidupan lainnya yang akan menjadi ciri khas suatu masyarakat dengan
masyarakat lainnya.
H. PROSES
DAN PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN
Perkembangan kebudayaan terhadap dinamika
kehidupan seseorang bersifat kompleks dan memiliki eksistensi dan
berkesinambungan dan juga menjadi warisan sosial. Seseorang mampu memengaruhi
kebudayaan dan memberikan peluang untuk terjadinya perubahan kebudayaan.
Hal yang terpenting dalam proses
pengembangan kebudayaan adalah dengan adanya kontrol atau kendali terhadap
perilaku reguler (yang tampak) yang ditampilkan oleh para penganut kebudayaan.
I. PROBLEMATIKA
KEBUDAYAAN
Problematika kebudayaan antara lain
:
1) Hambatan
budaya yang berkaitan dengan pandangan hidup dan sistem kepercayaan
2) Hambatan
budaya yang berkaitan dengan perbedaan persepsi
3) Hambatan
budaya yang berkaitan dengan faktor psikologi
4) Masyarakat
yang terasing dan kurang komunikasi dengan masyarakat luar
5) Sikap
tradisionalisme yang berprasangka buruk terhadap hal-hal baru
6) Sikap
etnosentrisme
7) Perkembangan
IPTEK
J. PERUBAHAN
KEBUDAYAAN
Ada lima faktor yang menjadi
penyebab perubahan kebudayaan, yaitu:
1) Perubahan
lingkungan alam
2) Perubahan
yang disebabkan adanya kontak dengan suatu kelompok lain
3) Perubahan
karena adanya penemuan
4) Perubahan
yang terjadi karena suatu masyarakat mengadopsi beberapa elemen kebudayaan
materiel yang telah dikembangkan oleh bangsa lain di tempat lain
5) Perubahan
yang terjadi karena suatu bangsa memodifikasi cara hidupnya dengan mengadopsi
suatu pengetahuan atau kepercayaan baru, atau karena perubahan dalam pandangan
hidup dan konsepsinya tentang realitas.
BAB
III
MANUSIA
DAN PERADABAN
A. PENGERTIAN
PERADABAN
Peradaban merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menyebutkan
bagian-bagian atau unsur kebudayaan yang dianggap halus, indah dan maju.
Berdasarkan pendapat para ahli yang berbeda satu dengan yang lainnya, maka
dapat disimpulkan bahwa peradaban adalah perkembangan kebudayaan yang telah
mencapai tingkat tertentu yang dicirikan oleh taraf inteleketual, keindahan,
teknologi dan spritual tertentu yang diperoleh manusia pendukungnya. Dengan
demikian, masyarakat tersebut dapat dikatakan telah mengalami proses perubahan
sosial yang berarti, sehingga taraf kehidupannya makin kompleks. Dengan kata
lain, telah memasuki tahapan atau tingkatan peradaban tertentu.
B. HAKIKAT
HIDUP MANUSIA
Manusia dalam kehidupannya memiliki tiga
fungsi sebagai makhluk Tuhan, makhluk individu dan makhluk sosial-budaya.
Karena tiap kebudayaan berbeda namun pada dasarnya memiliki hakikat yang sama,
yaitu:
1) Terwujud
dan tersalurkan lewat perilaku manusia
2) Sudah
ada sejak lahirnya generasi dan tetap ada setelah pengganti mati
3) Diperlukan
manusia yang diwujudkan lewat tingkah laku
4) Berisi
aturan yang berisi kewajiban, tindakan yang diterima atau tidak, larangan dan
pantangan.
C. PERADABAN
DAN PERUBAHAN SOSIAL
1. Pengertian
Dan Cakupan Perubahan Sosial
Perubahan sosial merupakan gejala yang
melekat disetiap masyarakat. Perubahan-perubahan yang terjadi didalam
masyarakat akan menimbulkan ketidaksesuain antara unsur-unsur sosial yang ada
didalam masyarakat, sehingga menghasilkan suatu pola kehidupan yang tidak
sesuai fungsinya bagi masyarakat yang bersangkutan. Perubahan sosial yaitu
perubahan yang terjadi dalam masyarakat atau dalam hubungan interaksi, yang
meliputi berbagai aspek kehidupan.
2. Teori
Dan Bentuk
a. Teori
Sebab-Akibat
1)
Analisis
Dialektis
Analisis dialektis ialah analisis
perubahan sosial yang menelaah syarat-syarat dan keadaan yang mengakibatkan
terjadinya perubahan dalam suatu sistem masyarakat.
2)
Teori
Tunggal Mengenai Perubahan Sosial
Teori tunggal menerangkan
sebab-sebab perubahan sosial, atau pola kebudayaan dengan menunjukkan kepada
satu faktor penyebab.
b. Teori
Proses Satu Arah atau Perubahan Sosial
1)
Teori
Evolusi Unilinear (Garis Lurus Tunggal)
Teori ini berpendapat bahwa manusia
dan masyarakat mengalami perkembangan sesuai dengan tahapan tertentu, semula
dari bentuk sederhana kemudian yang kompleks sampai pada tahap yang sempurna.
2)
Teori
Multilinear
Teori ini menggambarkan suatu
metodologi didasarkan pada suatu asumsi yang menyatakan bahwa perubahan sosial
atau kebudayaan didapatkan gejala keteraturan yang nyata dan signifikan.
D. TEORI-TEORI
MENGENAI PEMBANGUNAN, KETERBELAKANGAN, DAN KETERGANTUNGAN
1. Teori
Depedensi (Ketergantungan)
Pada umumnya memberikan gambaran melalui
analisis dialektis, yaitu suatu analisis yang menganggap bahwa gejala-gejala
sosial yang dapat diamati sehari-hari pasti mempunyai penyebab tertentu.
Teori perubahan menurut Moore (1974)
sebagai berikut:
a. Evolusi
rektilinier yang sangat sederhana
b. Evolusi
melalui tahap-tahap
c. Evolusi
yang terjadi dengan tahap kelajuan yang tidak serasi
d. Evolusi
bercabang yang mewujudkan perubahan
e. Evolusi
menurut siklus-siklus tertentu dengan kemunduran jangka pendek
f. Siklus-siklus
yang tidak mempunyai kecendrungan
g. Pertemuan
logistis yang digambarkan oleh populasi
h. Pertumbuhan
logistis terbalik yang tergambar dan angka motivasi
i.
Pertumbuhan eksponarisial yang tergambar
memulai tanda-tanda
j.
Primitivisme
Adapun bentuk-bentuk perubahan
sosial menurut Soejono Soekamto (1986), sebagai berikut :
a. Perubahan
yang terjadi secara lambat dan secara cepat
b. Perubahan
yang pengaruhnya kecil dan pengaruhnya besar
c. Perubahan
yang dikehendaki dan perubahan yang tak dikehendaki
2. Teori
Perubahan
Interkorelasi dan interaksi sosial
masyarakat mendorong perkembangan berpikir dan reaksi emosional para
anggotanya. Hal ini mendorong masyarakat untuk mengadakan berbagai perubahan.
Ada dua faktor yang menyebabkan perubahan sosial dalam masyarakat yaitu faktor
intern dan faktor ekstern.
a. Faktor
Intern
Faktor intern meliputi:
bertambahnya dan berkurangnya penduduk; adanya penemuan-penemuanbaru yang
meliputi discovery, invention, innovation;
konflik dalam masyarakat; dan pemberontakan dalam tubuh masyarakat.
b. Faktor
Ekstern
Faktor ekstern meliputi faktor alam
yang ada disekitar masyarakat yang berubah dan pengaruh kebudayaan lain dengan
melalui adanya kontak kebudayaan antara dua masyarakat atau lebih yang memiliki
kebudayaan yang berbeda.
3. Keseimbangan
Keseimbangan sosial adalah syarat yang
harus dipenuhi agar masyarakat berfungsi sebagaimana mestinya. Keseimbangan
sosial merupakan situasi dimana segenap lembaga sosial berfungsi dan saling
menunjang.
Keseimbangan dalam masyarakat
merupakan keadaan yang diidam-idamkan oleh setiap masyarakat. Setiap kali
terjadi gangguan terhadap keseimbangan tersebut, maka masyarakat akan
menolaknya atau mengubah semua sistem.
E. MODERNISASI
DIINDONESIA
1. Konsep
Modernisasi
Modernisasi masyarakat adalah suatu
proses transformasi yang mengubah:
a. Dibidang
ekonomi, modernisasi berarti tumbuhnya kompleks industri yang besar, dimana
produksi barang konsumsi dan sarana dibuat secara masal.
b. Dibidang
politik, dikatakan bahwa ekonomi yang modern memerlukan ada masyarakat rasional
dengan integrasi yang baik.
2. Syarat-Syarat
Modernisasi
a. Cara
berpikir ilmiah yang institutionalized
dalam kelas penguasa maupun masyarakat
b. Sistem
administrasi negara yang baik yang benar-benar mewujudkan birokrasi
c. Adanya
sistem pengumpulan data yang baik dan teratur
d. Penciptaan
iklim yang baik dan teratur
e. Tingkat
organisasi yang tinggi
f. Sentralisasi
wewenang dalam pelaksanaannya
3. Ciri-Ciri
Modernisasi
Modernisasi merupakan salah satu
modal kehidupan yang ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
a. Kebutuhan
materi dan ajang persaingan kebutuhan manusia
b. Kemajuan
teknologi dan industrialisasi, individualisasi, sekularisasi, diferensiasi, dan
akultrasi
c. Modernisasi
banyak memberikan kemudahan bagi manusia
d. Berkat
jasanya, hampir semua keinginan manusia terpenuhi
e. Modernisasi
juga memberikan atau melahirkan teori baru
f. Mekanisme
masyarakat berubah menuju prinsip dan logika ekonomi serta orientasi keadaan
yang berlebihan
g. Kehidupan
seseorang perhatian religius dicurahkan untuk bekerja dan menumpuk kekayaan
F. PERADABAN
INDONESIA DI TENGAH MODERNISASI DAN GLOBALISASI
Dengan perkembangan teknologi informasi
dan komunikasi, maka dunia menjadi sempit, ruang dan waktu menjadi relatif, dan
dalam banyak hal batas-batas negara sering menjadi kabur bahkan mulai tidak
relevan. Dinding pembatas antarbangsa menjadi semakin terbuka bahkan mulai
hanyut oleh arus perubahan. Oleh karena itu, Indonesia menghadapi kewajiban
ganda, disatu pihak melestarikan warisan budaya bangsa dan di pihak lain
membangun kebudayaan nasional yang modern.
Tujuan akhir dari kedua usaha atau
kewajiban ini adalah masyarakat modern yang tipikal Indonesia, masyarakat yang
tidak hanya mampu membangun dirinya sederajat dengan bangsa lain, tetapi juga
tangguh menghadapi tantangan kemerosotan mutu lingkungan hidup akibat arus ilmu
dan teknologi modern maupun menghadapi tren global yang membawa daya tarik kuat
kearah pola hidupyang bertentangan dengan nilai-nilai luhur bangsa.
BAB
IV
MANUSIA
SEBAGAI INDIVIDU DAN MAKHLUK SOSIAL
A. INDIVIDU
DAN MASYARAKAT
1. Manusia
Sebagai Makhluk Individu
Dalam bahasa Latin individu berasal dari
kata Individium,artinya yang terbagi.
Dalam bahasa Inggris individu berasal dari kata In dan divided. Kata In salah satunya mengandung pengertian
tidak, sedangkan divided artinya
terbagi. Jadi, individu artinya tidak terbagi atau satu kesatuan.
Manusia sebagai makhuk individu memiliki
unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa.
Seseorang dikatakan sebagai manusia individu manakala unsur-unsur tersebut
menyatu dalam dirinya. Jika unsur tersebut sudah tidak lagi menyatu, maka
sesorang tidak lagi disebut sebagai individu.
2. Manusia
Sebagai Makhluk Sosial
Dalam konteks sosial yang disebut masyarakat, setiap orang akan mengenal
orang lain melalui perilaku manusia tersebut selalu terkait dengan orang lain.
Perilaku manusia dipengaruhi orang lain, seperti tunduk pada aturan, tunduk
pada norma masyarakat, dan keinginan mendapat respons positif dari orang lain.
Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga dikarenakan pada diri manusia
ada dorongan untuk berinteraksi dengan orang lain, ada kebutuhan sosial untuk
hidup berkelompok dengan orang lain.
3. Manusia
Sebagai Makhluk Yang Berhubungan Dengan Lingkungan Hidup
Berkenaan hubungan antara manusia dengan
alam, maka paling tidak ada tiga paham yaitu, paham determinisme, paham
posibilisme, dan paham optimisme teknologi.
Alam lingkungan sebagai faktor yang
berpengaruh terhadap kehidupan manusia, tidak lagi dipandang sebagai faktor
yang menentukan. Manusia dengan kemampuan budayanya dapat memilih kegiatan yang
cocok sesuai dengan kemungkinan dan peluang yang diberikan oleh alam
lingkungannya, telah dipandang aktif sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
B. PENGERTIAN
MASYARAKAT DAN CIRI-CIRINYA
Masyarakat adalah kumpulan orang yang
didalamnya hidup bersama dalam waktu yang cukup lama. Jadi bukan hanya kumpulan
atau kerumunan orang dalam waktu sesaat,
seperti kerumunan orang di stasiun, pasar, dan lapangan sepak bola. Dalam
kebersamaan yang lama terjadi interaksi sosial, selanjutnya orang-orang membentuk
masyarakat harus memiliki kesadaran bahwa mereka merupakan satu kesatuan.
Masyarakat merupakan suatu sistem hidup
bersama, dimana mereka menciptakan nilai, norma, dan kebudayaan bagi kehidupan
mereka. Berdasarkan pendapat para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat
adalah
1) Kumpulan
2) Sudah
terbentuk dengan lama
3) Sudah
memiliki sistem dan struktur sosial sendiri
4) Memiliki
kepercayaan (nilai), sikap, dan perilaku yang dimiliki bersama
5) Adanya
kesinambungan dan pertahanan diri
6) Memiliki
kebudayaan
C. MASYARAKAT
DESA DAN KOTA
Masyarakat kota dan desa memiliki
perhatian yang berbeda. Desa yang mengalami perubahan sehingga unsur-unsur kota
masuk didalamnya. Begitu pula kota, meskipun disebut sebuah kota, ciri-ciri
atau kebiasaan desa masih ada yang melekat didalamnya. Sebuah kota seringkali
ditandai dengan kehidupan yang ramai, wilayahnya luas, dan mata pencaharian
penduduknya bermacam-macam, sedangkan kehidupan didesa malah sebaliknya. Di
desa, yang diutamakan adalah perhatian khusus terhadapkeperluan pokok,
fungsi-fungsi yang lain diabaikan. Lain halnya dengan pandangan orang kota,
mereka melihat selain kebutuhan pokok, pandangan masyrakat sekitarnya sangat
mereka perhatikan.
D. MASYARAKAT
SADAR RISIKO (RISK SOCIETY)
Topik tentang masyarakat risiko ini
telah menjadi pembicaraan ilmuwan sosial dan para intelektual lain. Dengan
munculnya gagasan mengenai kesadaran masyarakat risiko memunculkan konsekuensi
yang harus dipikirkan oleh para ilmuwan lain, terutama yang berhubungan dengan
formasi masyarakat untuk mengembangkan kesadaran masyarakat risiko. Masyarakat
risiko adalah masyarakat yang seluruh sendi kehidupannyadibangun diatas
kesadaran akan risiko.
E. INTERAKSI
SOSIAL DAN PELAPISAN SOSIAL
1. Interaksi
Sosial
Interaksi adalah proses dimana orang-orang berkomunikasi saling
memengaruhi dalam pikiran dan tindakan.
a. Interaksi
Soial Sebagai Faktor Utama Dalam Kehidupan
Adapun faktor-faktor yang mendasari
berlangsungnya interaksi sosial, yaitu faktor imitasi; faktor sugesti; faktor
identifikasi; dan faktor simpati.
b. Syarat-Syarat
Terjadinya Interaksi Sosial
Syarat-syarat terjadinya interaksi
sosial yaitu, adanya kontak sosial dan adanya komunikasi. Selain itu, kontak
sosial dapat terjadi dan berlangsung dalam dua bentuk, yaitu antara orang
perorangan dan antara kelompok dengan kelompok.
c. Bentuk-Bentuk
Interaksi Sosial
1) Bentuk
Interaksi Asosiatif
Kerja sama (cooperation)
Kerja sama timbul karena orientasi
orang perorangan terhadap kelompoknya dan kelompok lain. Sehubungan dengan
kerja sama, maka ada tiga bentuk kerja sama yaitu, Bargaining, Cooperation, dan
Coalition.
Akomodasi (accomodation)
Istilah akomodasi digunakan dalam
dua arti, yaitu untuk menunjuk pada suatu keadaan, berarti suatu kenyataan
adanya suatu keseimbangan dalam interaksi antara orang perorangan dan kelompok
manusia, sehubungan dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang
berlaku dalam masyarakat. Adapun bentuk-bentuk akomodasi, yaitu; coercion, compromise, arbitration,
mediation, conciliation, tolerantion, stelemate, dan adjudication.
2) Bentuk
Interaksi Disosiatif
Persaingan (competition)
Persaingan adalah bentuk interaksi
yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang bersaing untuk mendapatkan
keuntungan tertentu bagi dirinya dengan cara menarik perhatian atau mempertajam
prasangka yang telah ada tanpa menggunakan kekerasan.
Kontravensi (contravention)
Kontravensi bentuk interaksi sosial
ditandai oleh adanya ketidakpastian terhadap diri seseorang, perasaan tidak
suka yang disembunyikan dan kebencian terhadap kepribadian orang, akan tetapi
gejala-gejala tersebut tidak sampai menjadi pertentangan atau pertikaian.
Pertentangan (conflict)
Pertentangan adalah suatu bentuk
interaksi individu atau kelompok sosial yang berusaha untuk mencapai tujuannya
dengan jalan menentang pihak lain disertai ancaman atau kekerasan. Pertentangan
memiliki bentuk-bentuk yang khusus, antara lain pertentangan pribadi, pertentangan
rasional, pertentangan kelas sosial, dan pertentangan politik.
F. STRATIFIKASI
SOSIAL DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT
Setiap individu adalah anggota dari suatu
kelompok, tetapi tidak setiap warga dari suatu masyarakat hanya menjadi anggota
dari satu kelompok tertentu , ia bisa menjadi anggota lebih dari satu kelompok
sosial.
Individu yang berada pada stratifikasi
bawah akan meniru gaya hiup yang dikembangkan kelompok stratifikasi atasnya.
Keberhasilan peniruan ini tergantung kepada:
1) Kemampuan
orang yang meniru, karena tidak semua gaya hidup dapat ditiru
2) Penerimaan
kelompok luar yang dijadikan kelompok
acuan
3) Dalam
posisi individu sudah keluar dari keanggotaan suatu kelompok dan belum diterima
sebagai anggota kelompok yang diacu, maka ia berada pada posisi pinggiran atau marginal man.
BAB V
MANUSIA DAN PERADABAN
A. HAKIKAT
NILAI MORAL DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
1. Nilai
Dan Moral Sebagai Materi Pendidikan
Ada beberapa bidang filsafat yang berhubungan dengan cara manusia
mencari hakikat sesuatu, salah satu diantaranya ialah aksiologi. Bidang ini
disebut filsafat nilai, bidang memiliki dua kajian utama yaitu estetika dan
etika. Estetika berhubungan dengan keindahan, sedangkan etika berhubungan
dengan kajian baik buruk dan benar salah.
2. Nilai
Moral Di Antara Pandangan Objektif Dan Subjektif Manusia
Manusia sebagai makhluk yang bernilai akan memaknai nilai dalam dua
konteks, pertama akan memandang nilai
sebagai nilai yang objektif, apabila
dia memandang nilai itu ada meskipun tanpa ada yang menilainya, bahkan
memandang nilai telah ada sebelum adanya manusia sebagai penilai. Pandangan kedua memandang nilai itu subjektif, artinya nilai sangat
tergantung pada subjek yang menilainya.
3. Nilai
Di Antara Kualitas Primer Dan Kualitas Sekunder
Kualitas primer, yaitu kualitas dasar yang tanpa itu objek tidak dapat
menjadi ada, seperti panjang dan beratnya batu sudah ada sebelum batu itu
dipahat (menjadi patung misalnya). Kualitas primer ini merupakan bagian dari
eksistensi objek, objek tidak ada tanpa adanya kualitas primer ini. Sedangkan
kualitas sekunder, yaitu kualitas
yang dapat ditangkap oleh
pancaindra, seperti warna, rasa, dan bau. Kualitas ini terpengaruh oleh tingkat
subjektivitas. Seperti halnya kualitas primer, kualitas sekunder pun merupakan
bagian eksistensi atau realitas objek.
4. Metode
Menemukan Dan Hierarki Nilai Dalam Pendidikan
Nilai berhubungan erat dengan kegiatan manusia menilai. Menilai berarti
menimbang, yaitu kegiatan manusia menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang
lain, yang selanjutnyadiambil suatu keputusan. Oleh karena itu, nilai itu
memiliki polaritas dan hierarki, yaitu:
a) Nilai
menampilkan diri dalam aspek positif dan aspek negatif yang sesuai (polaritas)
seperti baik dan buruk, keindahan dan kejelekan dan lain sebagainya.
b) Nilai
tersusun secara hierarkis, yaitu hierarki urutan pentingnya. Dalam posisi
hierarki nilai ini, pendidikan pada hakikatnya merupakan upaya membantu peserta
didik untuk menyadari nilai-nilai yang dimilikinya dan berupaya memanfasilitasi
mereka agar terbuka wawasan da perasaannya.
5. Pengertian
Nilai
Karena bervariasinya pengertian nilai, sulit untuk mencari kesimpulan
yang komperehensif agar mewakili setiap kepentingan dan berbagai sudut pandang,
tetapi ada hal yang disepakati dari semua pengertian nilai tersebut, bahwa
nilai berhubungan dengan manusia, selanjutnya nilai itu penting.
6. Makna
Nilai Bagi Manusia
Dalam hubungan ini, pendidikan ISBD tidak mempersoalkan dari mana nilai
tersebut, tetapi lebih memerhatikan pentingnya nilai itu bagi manusia dalam
kehidupan bermasyarakat. Nilai itu harus jelas, harus semakin diyakini oleh
individu dan harus diaplikasikan dalam perbuatan. Yang penting dalam upaya
pendidikan, keyakinan individu pada nilai harus menyentuh sampai hierarki nilai
tertinggi, sebab seperti yang diungkapkan oleh Sheller, sebagai berikut:
a) Nilai
tertinggi menghasilkan kepuasan yang lebih mendalam
b) Kepuasan
jangan dikacaukan dengan kenikmatan (meskipun kenikmatan merupakan hasil
kepuasan)
c) Semakin
kurang kerelatifan nilai, semakin tinggi keberadaannya, nilai tertinggi dari
semua nilai adalah nilai mutlak.
B. PROBLEMATIKA
PEMBINAAN NILAI MORAL
1. Pengaruh
Kehidupan Keluarga Dalam Pembinaan Nilai Moral
Keluarga sebagai bagian dari masyarakat, terpengaruh oleh tuntutan
kemajuan yang terjadi, namun masih banyak orang yang meyakini bahwa nilai moral
itu hidup dan dibangun dalam lingkungan keluarga. Setiap hari dalam keluarga
terjadi perubahan-perubahan yang dramatis, meskipun tidak sampai masuk kategori
menakutkan.
Persoalan merosotnya intensitas
interaksi dalam keluarga, serta terputusnya komunikasi yang harmonis antara
orang tua dengan anak, mengakibatkan merosotnya fungsi keluarga dalam pembinaan
nilai moral anak. Keluarga bisa jadi tidak lagi menjadi tempat untuk
memperjelas nilai ynag harus dipegang bahkan sebaliknya menambah kebingungan
nilai bagi anak. Dalam posisi seperti inilah institusi pendidikan perlu
memfasilitasi peserta didik untuk melakukan klarifikasi nilai.
2. Pengaruh
Teman Sebaya Terhadap Pembinaan Nilai Moral
Setiap orang yang menjadi teman anak akan menampilkan kebiasaan yang
dimilikinya, pengaruh pertemanan ini akan berdampak positif manakala isu dan
kebiasaan teman itu positif pula. Sebaliknya akan berdampak negatif bila sikap
dan tabiat yang ditampilkan memang buruk.
3. Pengaruh
Figur Otoritas Terhadap Perkembangan Nilai Moral Individu
Jika seorang anak atau remaja mengungkapkan kebingungannya dihadapan
orang dewasa, maka dapat dipredikisi reaksi orang dewasa tersebut, langsung
ataupun tidak langsung orang dewasa atau orang tua akan berusaha menunjukan
jalan mana yang paling bijak dan paling benar atau menunjukan jalan yang baik
bagi anak atau remaja tersebut. Dengan kata lain, orang tua belum meyakini
bahwa anak-anak telah menjadi “manusia”. Anak-anak diharuskan mengikuti anjuran
yang disarankan, mereka juga harus mengikuti harapan atau aspirasi yang
dimiliki orang tua. Masih ada kecenderungan untuk menganggap bahwa keyakinan
orang dewasa tetap harus dipertahankan, anak harus memiliki keyakinan seperti
keyakinannya.
4. Pengaruh
Media Komunikasi Terhadap Perkembangan Nilai Moral
Sekarang pun muncul alat-alat cetak terbaru dengan komputerisasi yang
relatif lebih ekonomis. Buku komik muncul dan penerbit melihat peluang besar
dalam segmen pasar anak. Buku-buku ini menjadi penyampai cerita kriminl, horor,
dan semua bentuk kejanggalan kehidupan. Pada saat yang bertepatan, surat kabar
dan majalahpun berubah drastis, isinya lebih banyak menampilkan cerita
kriminal, seks dan korupsi. Dalam hal ini, tidak bermaksud menyatakan bahwa
alternatif-alternatif yang ditawarkan harus dihapuskan, atau menyebutkan bahwa
anak-anak dapat mengambil pelajaran dari semua kejadian tersebut. Kami ingin
mengungkapkan bahwa jika hanya dirinya sendiri, maka anak tidak akan mampu
mengambil manfaat besar dari jutaan pilihan yang tersedia.
5. Pengaruh
Otak Atau Berpikir Terhadap Perkembangan Nilai Moral
Berpikir adalah hasil kerja otak, namun otak tidak bekerja secara
sederhana dalam pengertian stimulus respons dan juga tidak menyimpan “fakta”
secara sederhana sebagai referensi masa depan. Dengan demikian, pendidikan
tentang nilai moral yang menggunakan pendekatan berpikir dan lebih berorientasi
pada upaya-upaya untuk mengklarifikasi nilai moral sangat dimungkinkan bila
melihat eratnya hubungan antara berpikir dengan nilai itu sendiri, meskipun
diakui bahwa ada pendekatan lain dalam pendidikan nilai yang memiliki orientasi
berbeda.
6. Pengaruh
Informasi Terhadap Perkembangan Nilai Moral
Munculnya berbagai informasi, apalagi bila informasi itu sama kuatnya,
maka akan memengaruhi disonansi kognitif yang sama, misalnya saja pengaruh
tuntutan teman sebaya dengan tuntutan aturan keluarga dan aturan agama akan
menjadi konflik internal pada individu yang akhirnya akan menimbulkan kebingungan
nilai bagi individu tersebut. Kebingungan ini bisa diperparah apabila lembaga
pendidikan peserta didik diberi lagi informasi tambahan yang berbeda dengan
tiga tuntutan tersebut tanpa memberikan solusi untuk menemukan nilai dirinya.
C. MANUSIA
DAN HUKUM
Disepakati bahwa manusia adalah makhluk
sosial, yaitu makhluk yang selalu berinteraksi dan membutuhkan bantuan dengan sesamanya.
Dalam konteks hubungan dengan sesama seperti itulah perlu adanya keteraturan
sehingga setiap individu dapat berhubungan secara harmonis dengan individu lain
disekitarnya. Untuk terciptanya keteraturan tersebut, maka diperlukan aturan
yang disebut oleh kita hukum. Hukum
dalam masyarakat merupakan tuntutan, mengingat bahwa kita tidak mungkin
menggambarkan hidupnya manusia tanpa atau diluar masyarakat. Maka,
manusia-masyarakat dan hukum merupakan pengertian yang tidak dapat dipisahka,
sehingga pemeo “ubi societes ibi ius” (dimana ada maysarakat disana ada hukum)
adalah tepat.
Hukum
diciptakan dengan tujuan yang berbeda-beda , ada yang menyatakan bahwa tujuan
hukum adalah keadilan, ada juga yang menyatakan kegunaan dan ada juga yang
menyatakan kepastian, dsb.
D. HUBUNGAN
HUKUM DAN MORAL
Antara hukum dan moral terdapat hubungan
yang erat sekali, ada pepatah Roma mengatakan “Quid leges sine moribus?” Apa artinya undang-undang kalau tidak
disertai moralitas? Dengan demikian, hukum tidak akan berarti tanpa dijiwai
moralitas, hukum akan kosong tanpa moralitas.
Meskipun
hubungan hukum dan moral begitu erat, namun hukum dan moral tetap berbeda sebab
dalam kenyataannya “mungkin” ada hukum yang bertentangan dengan moral atau ada
undang-undang yang immoral, yang
berarti terdapat ketidakcocokan antara hukum dan moral. Untuk itu dalam konteks
ketatanegaraan Indonesia ini apalagi dalam konteks pengambilan keputusan hukum
membutuhkan moral, sebagaimana moral membutuhkan hukum.
BAB VI
MANUSIA, KERAGAMAN, DAN
KESEDERAJATAN
A. MAKNA
KERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN
1. Makna
Keragaman
Keragaman berasal dari kata “ragam” yang
menurut KBBI artinya: (1) tingkah laku; (2) macam, jenis; (3) lagu, musik,
langgam; (4) warna, corak, ragi; dan (5) ling , laras (tata bahasa). Keragaman
berarti perihal beragam-ragam, berjenis-jenis, perihal ragam, hal jenis.
Keragaman yang dimaksud disini
adalah suatu kondisi dalam masyarakat dimana terdapat perbedaan-perbedaan dalam
berbagai bidang,terutama suku bangsa dan ras, agama dan keyakinan, ideologi,
adat kesopanan, serta situasi ekonomi.
2. Makna
Kesederajatan
Kesederajatan berasal dari kata “sederajat” yang menurut KBBI artinya
sama tingkatan (pangkat dan kedudukan). Dengan demikian, konteks kesederajatan
di sini adalah suatu kondisi dimana dalam perbedaan dan keragaman yang ada
manusia tetap memiliki satu kedudukan yang sama dan satu tingkatan hierarki.
B. UNSUR-UNSUR
KERAGAMAN DALAM MASYARAKAT INDONESIA
1. Suku
Bangsa Dan Ras
Suku bangsa yang menempati wilayah Indonesia dari sabang sampai merauke
sangat beragam. Adapun ras muncul karena
adanya pengelompokan besar manusia memiliki ciri-ciri biologis lahiriah yang
sama seperti rambut, warna kulit, ukuran-ukuran tubuh, mata dan ukuran kepala.
2. Agama
Dan Keyakinan
Agama mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia.
Ikatan yang dimaksud berasal dari suatu kekuatan gaib yang tak dapat ditangkap
dengan pancaindra, namun mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap
kehidupan manusia sehari-hari.
3. Ideologi
Dan Politik
Ideologi ialah suatu istilah umum bagi sebuah gagasan yang berpengaruh
kuat terhadap tingkah laku dalam situasi khusus karena merupakan kaitan antara
tindakan dan kepercayaan yang fundamental. Ideologi membantu untuk lebih memperkuat
landasan moral bagi sebuah tindakan. Politik mencakup baik konflik antara
individu-individu dan kelompok untuk memperoleh kekuasaan, yang digunakan oleh
pemenang bagi keuntungannya sendiri atas kerugian dari yang ditaklukan. Politik
juga bermakna usaha untuk menegakkan ketertiban sosial.
4. Tata
Krama
Tata krama yang dianggap dari bahasa jawa yang berarti “adat, sopan
santun, basa-basi”. Pada dasarnya ialah segala tindakan, perilaku, adat
istiadat, tegur sapa, ucap dan cakap sesuai kaidah atau norma tertentu. Tata
krama dibentuk dan dikembangkan oleh masyarakat, tata krama terdiri atas
aturan-aturan yang kalau dipatuhi diharapkan akan tercipta interaksi sosial
yang tertib dan efektif di dalam masyarakat yang bersangkutan.
5. Kesenjangan
Ekonomi
Bagi sebagian negara
berkembang, perekonmian akan menjadi salah satu perhatian yang harus
ditingkatkan. Namun umumnya, masyarakat kita berada digolongan tingkat ekonomi
menengah ke bawah.
6. Kesenjangan
Sosial
Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat
yang majemuk dengan bermacam tingkat, pangkat, dan strata sosial yang
hierarkis. Hal ini, dapat terlihat dan dirasakan dengan jelas dengan adanya
penggolongan orang berdasarkan kasta. Hal inilah yang dapat menimbulkan
kesenjangan sosial yang tidak saja dapat menyakitkan, namun juga membahayakan
bagi kerukunan masyarakat.
C. PENGARUH
KERAGAMAN TERHADAP KEHIDUPAN BERAGAMA, BERMASYARAKAT, BERNEGARA, DAN KEHIDUPAN
GLOBAL
Berdirinya negara indonesia dilatarbelakangi oleh masyarakat yang
demikian majemuk, baik secara etnis, geografis, kultural, maupun religius. Kita
tidak dapat mengingkari sifat pluralistis bangsa kita. Kita perlu memberi
tempat bagi berkembangnya kebudayaan suku bangsa dan kebudayaan beragama yang
dianut oleh warga negara indonesia.
Manusia secara kodrat diciptakan sebagai makhluk yang mengusung nilai
harmoni. Perbedaan yang mewujud baik secara fisik maupun mental, sebenarnya
merupakan kehendak Tuhan yang seharusnya dijadikan sebagai sebuah potensi untuk
menciptakan sebuah kehidupan yang menjunjung tinggi toleransi. Dikehidupan
sehari-hari, kebudayaan suku bangsa dan kebudayaan agama, bersama-sama dengan
pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara, mewarisi perilaku dan kegiatan kita.
Berbagai kebudayaan itu beriringan, saling melengkapi, bahkan mampu untuk
saling menyesuaikan (fleksibel) dalam kehidupan sehari-hari.
D. PROBLEMATIKA
DISKRIMINASI
Diskriminasi adalah setiap tindakan yang melakukan pembedaan terhadap
seseorang atau sekelompok orang berdasarkan ras, agama, suku, etnis, kelompok,
golongan, status, dan kelas sosial-ekonomi, jenis kelamin, kondisi fisik tubuh,
usia, orientasi seksual, pandangan ideologi dan politik, serta batas negara,
dan kebangsaan seseorang.
Problematika lain yang timbul dan harus di waspadai adalah adanya
disintegrasi bangsa. Dari kajian yang dilakukan terhadap berbagai kasus
disintergrasi bangsa dan bubarnya sebuah negara, maka dapat disimpulkan bahwa adanya
enam faktor utama yang secara gradual bisa menjadi penyebab utama proses itu,
yaitu: kegagalan kepemimpinan; krisis ekonomi yang akut dan berlangsung lama;
krisis politik; krisis sosial; demoralisasi tentara dan polisi; dan intervensi
asing.
1. Manusia
Beradab Dalam Keragaman
Hubungan antara kebudayaan dengan peradaban sangat erat, peradaban
adalah salah satu perwujudan kebudayaan yang bernilai tinggi, indah, dan
harmonis yang mencerminkan tingkat kebudayaan masyarakat yang bersangkutan,
misalnya adab, sopan santun, budi pekerti, budi bahasa, seni dan sebagainnya.
Realitas keragaman budaya bangsa ini tentu membawa konsekuensi munculnya
persoalan gesekan antarbudaya, yang memengaruhi dinamika kehidupan masyarakat.
Oleh karena itu, manusia yang beradab harus bersikap terbuka dalam melihat
semua perbedaan dalam keragaman yang ada, menjunjung tinggi nilai-nilai
kesopanan dan menjadikan keragaman sebagai kekayaan bangsa, alat pengikat
persatuan seluruh masyarakat dalam kebudayaan yang beraneka ragam.
Faktor-faktor terjadinya perubahan sosial-budaya ada dua macam yaitu
dari luar masyarakat dan berasal dari dalam itu sendiri. Yang berasal dari luar
yaitu, Akultrasi, Difusi, Penetrasi, Invasi, Asimilasi, Hibridisasi dan
Milenarisasi. Sedangkan faktor yang berasal dari dalam yaitu, Inovasi,
Discovery, Invention dan Enkulturasi. Adapun faktor dari dalam yang lain yaitu
menghargai hasil karya orang lain,
adanya keterbukaan dalam masyarakat, adanya toleransi terhadap
perbuatan-perbuatan yang menyimpang (deviation) dan penduduk yang heterogen.
BAB
VII
MANUSIA,
SAINS, TEKNOLOGI, DAN SENI
A. PENGERTIAN
SAINS, TEKNOLOGI, DAN SENI
1. Sains
Sains berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam semesta secara
sistematis, bukan hanya kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta,
konsep-konsep, dan prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses
penemuan.
Kata dasar yang diambil dari kata scienta
yang berarti knowledge (ilmu). Tidak
semua ilmu itu boleh dianggap sains. Yang dimaksud ilmu sains adalah ilmu yang
dapat diuji (hasil dri pengamatan sesungguhnya) kebenarannya dan dikembangkan
secara bersistem dengan kaidah-kaidah tertentu berdasarkan kebenaran atau
kenyataan semata sehingga pengetahuan yang dipedomani tersebut boleh
dipercayai, melalui eksperimen secara teori.
2. Konsep
Teknologi
Dalam kepustakaan teknologi terdapat
aneka ragam pandapat yang menyatakan bahwa teknologi adalah transformasi
(perubahan bentuk) dari alam. Teknologi adalah realitas/kenyataan yang
diperoleh dari dunia ide, teknologi dalam makna subjektif adalah keseluruhan
peralatan dan prosedur yang disempurnakan sampai pernyataan bahwa teknologi
adalah segala hal, dan segala hal adalah teknologi.
Istilah “teknologi” berasal dari kata techne dan logia. Kata Yunani kuno techne
berarti seni kerajinan. Dari techne
kemudian lahirlah perkataan technikos
yang berarti seseorang yang memiliki keterampilan tertentu. Adapun tiga macam
teknologi yang sering dikemukakan oleh para ahli, yaitu teknologi modern;
teknologi madya; dan teknologi tradisional.
3. Seni
Janet Woll mengatakan bahwa seni adalah
produk sosial. Menurut Kamus Umum Bahasa
Indonesia, seni adalah keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari
segi kehalusannya, keindahannya, dan sebagainya) seperti tari, lukis, dan ukir.
Konsep pendidikan yang memerlukan ilmu dan seni ialah proses atau upaya sadar
antara manusia dengan sesama secara beradab.
B. MAKNA
SAINS, TEKNOLOGI, DAN SENI BAGI MANUSIA
1. Perkembangan
Teknologi
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat mendatangkan kemakmuran
materi. Adanya perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi menimbulkan
cabang ilmu pengetahuan baru antara lain; teknologi modern, teknologi hutan,
teknologi gedung (metalurgi), teknologi transportasi, dan lain-lain. Dengan
menggunakan cabang-cabang ilmu pengetahuan baru tersebut, kita dapat memperoleh
hasil, misalnya penggunaan teknik nuklir dan pengunaan teknlogi hutan.
2. IPTEK
Dan Nilai
Dalam menghadapi era teknologi modern dan
industrialisasi, maka dituntut adanya keahlian untuk menggunakan, mengelola,
dan senantiasa menyesuaikan dengan teknologi-teknologi dan ilmu pengetahuan
yang baru. Selain itu, sikap mental dan nilai hidup harus mengarah terhadap
nilai tersebut.
Teknologi dapat membawa bencana, sebaliknya juga telah terbukti bahwa
bagi mereka yang dapat memanfaatkannya, teknologi tersebut dapat menolong
mereka dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
C. MANUSIA
SEBAGAI SUBJEK DAN OBJEK IPTEK
Berkat kemajuan ilmu dan teknologi
manusia dapat menciptakan alat-alat serta perlengkapan yang canggih untuk
berbagai kegiatan, sehingga dalam kegiatan hidupnya tersedia berbagai
kemudahan. Hal ini memungkinkan manusia dapat melakukan kegiatan lebih efektif
dan efisien. Dengan ilmu dan teknologi tumbuhlah berbagai industri yang
hasilnya dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang, antara lain; bidang
pertanian, peternakan, perikanan; bidang kedokteran dan kesehatan; bidang
telekomunikasi; dan bidang pertahanan dan keamanan.
D. DAMPAK
PENYALAHGUNAAN IPTEK BAGI KEHIDUPAN
Permasalahan yang timbul akibat dari
adanya kemajuan teknologi adalah adanya dampak negatif yang disebabkan oleh
kemajuan teknologi tersebut diantaranya: nuklir, polusi yang mliputi:
pencemaran air dan tanah; pencemaran udara; pencemaran suara; dan pencemaran
sosial dan budaya, klonasi/kloning, dan efek rumah kaca.
BAB
VIII
MANUSIA
DAN LINGKUNGAN
A. PENGERTIAN
MANUSIA DAN LINGKUNGAN
1. Pengertian
Manusia
Manusia adalah makhluk hidup ciptaan
Tuhan dengan segala fungsi dan potensinyayang tunduk pada aturan hukum alam,
mengalami kelahiran, pertumbuhan, perkembangan, dan mati dan seterusnya, serta
terkait berinteraksi dengan alam dan lingkungannya dalam sebuah hubungan timbal
balik baik itu positif maupun negatif.
2. Pengertian
Lingkungan
Lingkungan adalah suatu media dimana makhluk hidup tinggal, mencari
penghidupannya, dan memiliki karakter serta fungsi yang khas yang mana terkait
secara timbal balik dengan keberadaan makhluk hidup yang menempatinya, terutama
manusia yang memiliki peranan yang lebih kompleks dan riil.
B. KORELASI
ANTARA MANUSIA DENGAN LINGKUNGAN
1. Pengertian
Ekologi
Ekologi berasal dari bahasa Yunani,
ekologi terdiri atas dua suku kata yaitu oikos
yang berarti rumah tangga dan logos
yang berarti firman atau ilmu. Jadi, secara harfiah ekologi berarti ilmu
kerumahtanggaan. Ada beberapa definisi untuk ekologi yang kita kenal yaitu:
a) Ekologi
ialah cabang biologi yang mempelajari hubungnan timbal balik manusia dengan
lingkungannya.
b) Ekologi
ialah studi ilmiah tentang interaksi yang menentukan penyebaran dan kepadatan
makhluk hidup.
c) Ekologi
adalah biologi lingkungan
2. Lingkungan
Hidup Manusia
Manusia hidup, tumbuh, dan berkembang
dalam lingkungan alam dan sosial-budayanya. Dalam lingkunga alam manusia hidup
dalam sebuah ekosistem yakni suatu unit atau satuan fungsional dari
makhluk-makhluk hidup dengan lingkungannya.
C. PENGARUH
MANUSIA PADA ALAM LINGKUNGAN HIDUPNYA
Tampaklah disini manusia sedikit demi
sedikit mulai menyesuaikan diri pada alam lingkungan hidupnya. Bahkan lebih
dari pada itu, manusia telah mengubah semua komunitas biologis ditempat mereka
hidup. Perubahan alam lingkungan hidup manusia tampak jelas di kota-kota,
dibandingkan dengan di hutan rimba dimana penduduknya masih sedikit serta
primitif.
Perubahan alam lingkungan hidup manusia akan berpengaruh baik secara
positif ataupun negatif. Berpengaruh baik bagi manusia karena manusia
mendapatkan keuntungan dari perubahan tersebut dan berpengaruh tidak baik
karena dapat mengurangi kemampuan alam lingkungan hidupnya untuk menyokong
kehidupannya.
D. SUMBER
ALAM
Sumber alam dapat digolongkan kedalam dua bagian yaitu: Sumber alam yang
dapat diperbaharui (renewable resources)
atau disebut pula sumber-sumber alam biotik. Yang tergolong kedalam sumber alam
ini adalah semua makhluk hidup, hutan, hewan-hewan, dan tumbuh-tumbuhan.Sumber
alam yang tidak dapat diperbaharui (nonrenewable
resources) atau disebut pula sebagai golongan sumber alam abiotik. Yang tergolong kedalam
sumber alam abiotik adalah tanah, air, bahan-bahan galian, mineral, dan
bahan-bahan tambang lainnya.
1. Penggunaan
Sumber-Sumber Alam
Berbagai cara telah dilakukan
manusia dalam menggunakan sumber-sumber alam berupa tanah, air, fauna, flora,
bahan-bahan galian, dsb.
a) Pertanian
Dan Tanah
Dengan adanya kemajuan dalam bidang
pertanian, penggunanan tanah untuk
pertanian dapat digunakan secara efisien untuk meningkatkan hasil pertanian.
b) Hutan
Peranan hutan dapat digolongkan
menjadi dua yakni: (1) hutan pelindung, yaitu melindungi tanah dari erosi,
kehilangan humus, dan air tanah; (2) hutan penghasil, yaitu hutan ditanami
jenis-jenis tanaman tertentu yang dapat dipungut hasilnya.
c) Air
Manusia menggunakan air dengan baik
dan berusaha mencegahnya dari pencemaran-pencemaran yang mengganggu berjalannya
fungsi vital air dalam kehidupan manusia.
d) Bahan
Tambang
Begitu banyak mineral dan bahan
tambang lain yang dapat digali dan ditemui serta dimanfaatkan secara seimbang
dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, kita harus menemukan cara untuk
menggunakannya setepat dan sehemat mungkin mengingat bahan tambang adalah
sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui.
E. PERMASALAHAN-PERMASALAHAN
YANG TIMBUL
1. Masalah
Erosi Dan Banjir
Erosi merupakan gejala alamiah dan sering kali pula disebut sebagai
erosi geologi. Peristiwa erosi terjadi secara perlahan-lahan terutama terjadi
dengan bantuan media air disungai yang mengikis dasar dan tepi sungai.
Peristiwa erosi ini juga dipercepat dengan adanya penggunaan tanah yang tidak
tepat oleh manusia.
2. Pencemaran
Lingkungan
a) Pencemaran
Tanah
Sampah-sampah industri
pertanian yang menggunakan pupuk buatan
telah menyebabkan pencemaran tanah. Sampah-sampah tersebut adalah bahan-bahan
kimia yang bila terkumpul dalam jumlah tertentu, dapat membahayakan kehidupan
melalui tanah dimana pepohonan tumbuh
berkembang.
b) Pencemaran
Air
Misalnya melalui pembuangan limbah
pabrik, terkena pestisida, herbisida, dan insektisida yang digunakan manusia
dalam pertanian dan sebagainya.
c) Pencemaran
Udara
Pencemaran udara terjadi saat
komponen udara berada dalam jumlah di atas ambang normal dan membahayakan
lingkungan, misalnya pengguanaan kendaraan yang menimbulkan polusi.
d) Pencemaran
Suara
Kebisingan yang terjadi di
kota-kota besar sebagaian akibat dari berbagai jenis suara yang dikeluarkan
mesin-mesin atau kendaraan-kendaraan yang jumlahnya semakin meningkat secara
tidak terkontrol.
3. Kehutanan
Hutan di Indonesia berfungsi sebagai
paru-paru dunia karena menyerap karbon dioksida. Fungsi hutan yang lain sebagai
pengatur tata air, iklim, pencegah erosi, dsb. Pembangunan dalam bidang
kehutanan diarahkan untuk menunjang perekonomian negara dan memenuhi kebutuhan
dalam dan luar negeri. Pemerintah melakukan usaha-usaha untuk meningkatkan
produksi hutan, antara lain:
a) Melarang
penebangan kayu tanpa izin dari pemerintah;
b) Mencabut
izin pengusaha HPH yang melanggar peraturan;
c) Menebang
hutan secara selektif;
d) Melakukan
peremajaan tanaman;
e) Melakukan
rehabilitasi dan reboisasi areal hutan yang rusak; dan
f) Melakukan
penanaman di lahan kritis.
F. IPTEK
DAN KELESTARIAN HIDUP
1. Pandangan
Baru Terhadap Lingkungan
Masalah lingkungan hidup sebenarnya bukan
persoalan yang baru. Kerusakan lingkungan oleh aktivitas manusia yang makin
meningkat, antara lain tercemarnya lingkungan oleh pestisida serta limbah
industri dan transportasi, rusaknya habitat tumbuhan dan hewan langka, serta
menurunnya nilai estetika alam, merupakan beberapa masalah lingkungan hidup.
Pemanasan global pada tiga dekade akhir abad ke-20 telah menimbulkan
peningkatan suhu, perubahan iklim terutama curah hujan, peningkatan intensitas
dan kualitas badai, dan kenaikan suhu serta permukaan air laut.
2. Dampak
Perkembangan Dan Penerapan IPTEK, Serta Perubahan Sosial Ekonomi Terhadap
Masalah Lingkungan Hidup
a) Dampak
Positif Bagi Lingkungan
Bidang
Industri: diperluasnya lapangan kerja dengan berdirinya industri
atau pabrik baru, perkembangan industri bertambah baik, berkembangnya tanaman
sebagai bahan baku industri, diciptakannya mesin daur ulang, peningkatan
industri ekspor migas dan nonmigas, memperoleh devisa dari industri pariwisata.
Bidang Pertanian: bertambahnya
varietas baru dan unggul, peningkatan hasil produksi pertanian, dikenal dan
dipakainya alat-alat pertanian modern, dikenal sistem pemupukan dan obat-obat
hama, pemberantasan hama dengan pesawat terbang di perkebunan.
b) Dampak
Negatif Bagi Lingkungan Hidup
Bidang
Lingkungan Alam: rusaknya lingkungan alam karena adanya
industri/pabrik, banjir dan erosi, pencemaran tanah, pencemaran air, pencemaran
udara, semakin sempitnya lahan pertanian, perkebunan, peternakan, dan
kehutanan, serta makhluk hidup lain terkena racun akibat penyemprotan
pestisida.
G. MANUSIA
DENGAN LINGKUNGAN SOSIAL BUDAYA
Lingkungan yang berpengaruh pada manusia
ini sangat bervariasi baik dalam jenis dan sifatnya, dalam jumlah, kuantitas
dan volumenya, kekuatan dan daya tekannya, kualitasnya, hasrat dan dorongan
manusia untuk membutuhkannya. Demikian pula, ragam lingkungan seperti itu
sering berpengaruh pada perlakuan manusia terhadap lingkungan itu sendiri.
Namun demikian, variasi lingkungan di sekitar manusia itu relatif sama, bisa
saja induvidu yang ada dalam lingkungan yang sama melakukan respons dan
perlakuan yang berbeda terhadap lingkungan tersebut, tergantung bagaimana cara
pandang dia terhadap lingkungan, serta kemampuan dia memperlakukan lingkungan
dalam memenuhi hajat hidupnya.
Sebagai makhluk hidup budaya yang mampu
membaca dan belajar, manusia bukan hanya sebagai makhluk yang ditentukan dan
dipengaruhi lingkungan, akan tetapi dia mampu menyesuaikan diri, memengaruhi,
mengatur, dan mengolah lingkungannya. Dengan penjelajahannya ini, terjadilah
evolusi budaya, baik dalam budaya materiel maupun nonmateriel, terjadilah
perkembangan sejarah, peradaban, ilmu politik, keberagaman, relasi, multimedia,
ekonomi, teknologi, dan intelegensinya itu sendiri.
Evolusi kecerdasan, evolusi teknologi, serta evolusi peradaban,
berkembang terus sejalan dengan daya jelajah manusia, baik dalam bentuk fisikal
terlebih lagi dalam daya cipta dan imajinasinya, namun ruang gerak manusia
tetap ada batasnya sebab sebagai makhluk
alam dia tetap tunduk pada hukum alam.
Beberapa paham yang muncul tentang hubungan manusia dengan lingkungan,
yaitu Paham Kosmogini, Paham
Determinisme, Paham Posibilisme, Paham Optimisme, Dan Paham Ketuhanan.
Ragam paham tentang pandangan manusia terhadap alam ini masih terus berkembang
dan dipegang oleh kelompok masyarakat tertentu. Namun paham apapun yang
dipegang, manusia terus melakukan perubahan dalam berbagai dimensinya, termasuk
dalam kehidupan sosial.
Ada beberapa teori yang berbeda
untuk memulai dari mana menyelesaikan problema sosial tersebut, antara lain
1. Teori
Modernisasi
Menganggap kualitas hidup manusia
ditentukan karakter mental psikologis dan sosial budayanya sendiri.
2. Teori
Human Capital (pengembangan SDM)
Memandang bahwa lingkungan sosial
tergantung penguasaan IPTEK warga masyarakat di samping mental, psikologi, dan
sosial budaya.
3. Teori
Dependency (ketergantungan)
Mengatakan bahwa keterbelakangan
disebabkan eksploitasi pihak luar, oleh karena itu lingkungan sosial harus
dilakukan atas dasar kemampuan sendiri.
4. Teori
Determinisme Geografi
Memandang bahwa kondisi lingkungan
geografis menentukan corak dan kualitas hidup masyarakat.
DAFTAR
PUSTAKA
Effendi, Ridwan dkk.2013.ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR.Jakarta:Kencana
Prenada Media Group.
0 komentar:
Posting Komentar